Ya Allah, ambillah kesombongan dariku....
"Tidak. Bukan AKU yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya !"
Ya Allah, berilah aku kesabaran....
"Tidak. Kesabaran diperoleh dari ketabahan dalam menghadapi cobaan. AKU tidak memeberikan kesabaran, engkau harus meraihnya sendiri !"
Ya Allah, berilah aku kebahagiaan....
"Tidak. AKU memberi keberkahan dan hikmah, sedangkan kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri !"
Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesusahan....
"Tidak. Penderitaan akan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu padaKU !"
Ya Allah, beri aku segala yang menjadikan hidup ini nikmat....
"Tidak. AKU beri kau akal dan kalbu serta Al-Qur'an, supaya kau dapat menikmati kehidupan !"
Sumber:
Sentuhan Kalbu
Sebuah tempat bersejarah dalam perjalanan hidupku. Di sini aku menemukan jawaban pertanyaan untuk diriku, tentang siapakah aku ?
Kamis, Mei 19, 2011
Jumat, April 22, 2011
Andaikan Ini (Menikmati) Satu Hari Terakhir
Mencoba untuk menuangkan pikiran yang melintas dibenak... Entahlah, tiba-tiba pikiran 'Satu Hari Terakhir' ini datang 'menggoda'. Yuk, mari kita berandai-andai. Sejenak bermain-main dengan imajinasi....
Ada dua pikiranku mengenai satu hari terakhir.....
1. Alamanda Satu Hari Terakhir
Bagiku, berada di sini merupakan salah satu anugrah terindah yang aku nikmati. Bahagia bisa bersahabat dan bersaudara dengan orang-orang yang luar biasa. Berada di antara kumpulan orang-orang yang ber-keterbatasan dan ber-kelebihan. Tentu aku pun juga memiliki kelebihan dan keterbatasan diri. Namun satu hal yang membuat aku takjub, ketulusan yang mereka beri. Mereka turut bahagia dan mendorong segala kelebihan yang aku miliki tanpa terbesit iri dan menutupi keterbatasanku dengan kelebihan mereka dengan rela. Mereka hadirkan keseimbangan dalam hidupku, terkadang jadi pemberat agar aku tak melayang dalam bergerak cepat dan terkadang meringankan saat aku tertatih-tatih dalam menapaki langkah. Mungkin itulah perjalanan hidup, ada kala menurun dan ada kala jalannya menanjak.
Flash-back.....saat menapaki langkah pertama di sini....menyusuri koridor yang berfungsi ganda sebagai mushola, hawa sejuk dan tenangnya perlahan-lahan menyusup-menyusuri relung hati. Plus sapaan makhluk 'aneh' yang ramah lengkap dengan senyum hangatnya, mencairkan persepsi yang tanpa sadar telah mengkristal bak gunung es di kutub utara....
Yah...perlahan namun pasti, aku terkesan !!!
Lengkap dengan 'bonus' pemandangan alam yang disaksikan dari balkon, mengingatkan aku dengan roman-roman angkatan balai pustaka yang mendeskripsikan tentang kota Padang--yang dikelilingi oleh benteng alam bukit barisan serta hamparan Samudra Hindia yang luas membentang. Satu kesan yang senantiasa membekas di hati... sulit untuk pergi...karena aku telah jatuh hati di sini.
Mengenang kembali bagaimana aku bisa betah tinggal serumah dengan makhluk-makhluk 'aneh' ini... Kalau ketemu lawan jenis di jalan, jalannya nunduk-nunduk, andaikan di depan ada tiang listrik bisa nabrak [upss...tapi ini fakta ^_^]. Hufft...amat beda dengan aku, yang dulu terbiasa berinteraksi dengan laki-laki [habis saudara-saudara kandungku tak ada yang perempuan].... Jawabannya.... ada dua hal penting yang aku dapatkan di sini, rasa aman dan nyaman.
Kecenderungan hati yang mencari aman dan mendambakan kenyamanan...
Tak terbayangkan suatu hari nanti aku akan menapaki langkah kembali, perlahan-lahan menjauh dari sini. Bayangan itu merupakan keniscayaan, karena hidup merupakan perjalanan panjang mengumpulkan bekal untuk menuju keabadian [Jannah].
Namun aku pergi bukan dengan hati yang 'kosong' seperti pertama kali menyusuri koridor. Aku pergi dengan berjuta kenangan indah di hati...yang mungkin bakalan menjadi True Story-ku. Mungkin kelak akan menjadi kisah kerinduan, seperti pertama kali aku merindukan rumah orang tuaku ketika aku harus 'bermain di luar', yang kata ayah-bundaku semuanya ini harus aku lalui demi masa depanku kelak yang lebih indah.
Entahlah...andaikan ini satu hari terakhir di Alamanda, aku ingin mengelilingi tiap pojok serinci-rincinya tanpa ada yang terlewati demi mempertajam warna lukisan di hati. Dan tentu aku akan menghabiskan waktuku untuk bercengkerama bersama mereka....yang entah di waktu kapan bisa berjumpa kembali. Mengucapkan sebait kata, 'Semoga ALLAH meridhoi reunian kita kelak di Jannah-NYA....dan....ketahuilah aku ingin kelak kita kembali bertetangga di Syurga bersama Rasulullah SAW yang mulia'. Semoga ALLAH memperkenankan cita-cita kita, aamiin.
2. Satu Hari Terakhir di Dunia
Kira-kira apa yang akan kita lakukan..... andaikan datang pesan yang mengingatkan kita, 'waktumu untuk hidup tinggal satu hari lagi'. Panik kah ??? buru-buru untuk beribadah, berdo'a memohon ampunan atau kita tetap bersantai menikmati hari seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lagi....RENUNGKANLAH !
*****
Note:
Dalam Selimut Malam: Sekedar coretan tak telalu penting dari sesosok insan yang tengah belajar tuk MANDIRI ^_^
Ada dua pikiranku mengenai satu hari terakhir.....
1. Alamanda Satu Hari Terakhir
Bagiku, berada di sini merupakan salah satu anugrah terindah yang aku nikmati. Bahagia bisa bersahabat dan bersaudara dengan orang-orang yang luar biasa. Berada di antara kumpulan orang-orang yang ber-keterbatasan dan ber-kelebihan. Tentu aku pun juga memiliki kelebihan dan keterbatasan diri. Namun satu hal yang membuat aku takjub, ketulusan yang mereka beri. Mereka turut bahagia dan mendorong segala kelebihan yang aku miliki tanpa terbesit iri dan menutupi keterbatasanku dengan kelebihan mereka dengan rela. Mereka hadirkan keseimbangan dalam hidupku, terkadang jadi pemberat agar aku tak melayang dalam bergerak cepat dan terkadang meringankan saat aku tertatih-tatih dalam menapaki langkah. Mungkin itulah perjalanan hidup, ada kala menurun dan ada kala jalannya menanjak.
Flash-back.....saat menapaki langkah pertama di sini....menyusuri koridor yang berfungsi ganda sebagai mushola, hawa sejuk dan tenangnya perlahan-lahan menyusup-menyusuri relung hati. Plus sapaan makhluk 'aneh' yang ramah lengkap dengan senyum hangatnya, mencairkan persepsi yang tanpa sadar telah mengkristal bak gunung es di kutub utara....
Yah...perlahan namun pasti, aku terkesan !!!
Lengkap dengan 'bonus' pemandangan alam yang disaksikan dari balkon, mengingatkan aku dengan roman-roman angkatan balai pustaka yang mendeskripsikan tentang kota Padang--yang dikelilingi oleh benteng alam bukit barisan serta hamparan Samudra Hindia yang luas membentang. Satu kesan yang senantiasa membekas di hati... sulit untuk pergi...karena aku telah jatuh hati di sini.
Mengenang kembali bagaimana aku bisa betah tinggal serumah dengan makhluk-makhluk 'aneh' ini... Kalau ketemu lawan jenis di jalan, jalannya nunduk-nunduk, andaikan di depan ada tiang listrik bisa nabrak [upss...tapi ini fakta ^_^]. Hufft...amat beda dengan aku, yang dulu terbiasa berinteraksi dengan laki-laki [habis saudara-saudara kandungku tak ada yang perempuan].... Jawabannya.... ada dua hal penting yang aku dapatkan di sini, rasa aman dan nyaman.
Kecenderungan hati yang mencari aman dan mendambakan kenyamanan...
Tak terbayangkan suatu hari nanti aku akan menapaki langkah kembali, perlahan-lahan menjauh dari sini. Bayangan itu merupakan keniscayaan, karena hidup merupakan perjalanan panjang mengumpulkan bekal untuk menuju keabadian [Jannah].
Namun aku pergi bukan dengan hati yang 'kosong' seperti pertama kali menyusuri koridor. Aku pergi dengan berjuta kenangan indah di hati...yang mungkin bakalan menjadi True Story-ku. Mungkin kelak akan menjadi kisah kerinduan, seperti pertama kali aku merindukan rumah orang tuaku ketika aku harus 'bermain di luar', yang kata ayah-bundaku semuanya ini harus aku lalui demi masa depanku kelak yang lebih indah.
Entahlah...andaikan ini satu hari terakhir di Alamanda, aku ingin mengelilingi tiap pojok serinci-rincinya tanpa ada yang terlewati demi mempertajam warna lukisan di hati. Dan tentu aku akan menghabiskan waktuku untuk bercengkerama bersama mereka....yang entah di waktu kapan bisa berjumpa kembali. Mengucapkan sebait kata, 'Semoga ALLAH meridhoi reunian kita kelak di Jannah-NYA....dan....ketahuilah aku ingin kelak kita kembali bertetangga di Syurga bersama Rasulullah SAW yang mulia'. Semoga ALLAH memperkenankan cita-cita kita, aamiin.
2. Satu Hari Terakhir di Dunia
Kira-kira apa yang akan kita lakukan..... andaikan datang pesan yang mengingatkan kita, 'waktumu untuk hidup tinggal satu hari lagi'. Panik kah ??? buru-buru untuk beribadah, berdo'a memohon ampunan atau kita tetap bersantai menikmati hari seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lagi....RENUNGKANLAH !
*****
Note:
Dalam Selimut Malam: Sekedar coretan tak telalu penting dari sesosok insan yang tengah belajar tuk MANDIRI ^_^
Minggu, April 17, 2011
Refleksi Diri
Ilustrasi:
Di satu kelas pada mata pelajaran Biologi, Sang Guru bertanya kepada muridnya: "Anak-anakku, kira-kira menurut kamu apa yang membuat ikan yang hidup bertahun-tahun di laut yang asin tetap tawar ? " Murid-murid sibuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Sang Guru. Seketika kelas menjadi hening...semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Lalu selang beberapa menit kemudian tiba-tiba seorang anak laki-laki yang duduk di pojok kanan belakang mengacungkan jarinya. "Saya bisa Bu... Saya pikir itu karena ikannya masih hidup Bu ! Coba kalau ikannya mati, direndam dalam air asin hanya beberapa jam saja ikannya langsung berasa asin".
*******
Kata kunci:
Ikan, Laut, Asin, Ikan Hidup dan Ikan Mati.
Logikanya dapat disimpulkan, ikan yang hidup akan tetap tawar, walaupun hidup bertahun-tahun di laut yang asin dan luas. Sementara itu, ikan yang mati hanya selang beberapa jam akan berasa asin jika direndam dalam air asin, walaupun air asinnya cuma satu ember.
Sesuatu yang dikatakan hidup diantaranya ditandai dengan bergerak dan tumbuh.
Ikan diibaratkan dengan manusia dan laut adalah tempat hidup, sedangkan rasa asin diumpamakan dengan segala macam problema.
Begitulah manusia, bila jasadnya hidup diiringi dengan akal dan hati yang hidup, maka segala macam problema yang kita hadapi tak akan memepengaruhi kualitas diri. Apapun itu permasalahannya. Baik itu besar maupun kecil. Maka BERGERAK dan TUMBUHLAH !!! dengan itu menandakan ENGKAU HIDUP dan BERKUALITAS.
*******
Note:
Balkon lantai 3 Alamanda: Mempertajam analisis wacana.
Di satu kelas pada mata pelajaran Biologi, Sang Guru bertanya kepada muridnya: "Anak-anakku, kira-kira menurut kamu apa yang membuat ikan yang hidup bertahun-tahun di laut yang asin tetap tawar ? " Murid-murid sibuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Sang Guru. Seketika kelas menjadi hening...semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Lalu selang beberapa menit kemudian tiba-tiba seorang anak laki-laki yang duduk di pojok kanan belakang mengacungkan jarinya. "Saya bisa Bu... Saya pikir itu karena ikannya masih hidup Bu ! Coba kalau ikannya mati, direndam dalam air asin hanya beberapa jam saja ikannya langsung berasa asin".
*******
Kata kunci:
Ikan, Laut, Asin, Ikan Hidup dan Ikan Mati.
Logikanya dapat disimpulkan, ikan yang hidup akan tetap tawar, walaupun hidup bertahun-tahun di laut yang asin dan luas. Sementara itu, ikan yang mati hanya selang beberapa jam akan berasa asin jika direndam dalam air asin, walaupun air asinnya cuma satu ember.
Sesuatu yang dikatakan hidup diantaranya ditandai dengan bergerak dan tumbuh.
Ikan diibaratkan dengan manusia dan laut adalah tempat hidup, sedangkan rasa asin diumpamakan dengan segala macam problema.
Begitulah manusia, bila jasadnya hidup diiringi dengan akal dan hati yang hidup, maka segala macam problema yang kita hadapi tak akan memepengaruhi kualitas diri. Apapun itu permasalahannya. Baik itu besar maupun kecil. Maka BERGERAK dan TUMBUHLAH !!! dengan itu menandakan ENGKAU HIDUP dan BERKUALITAS.
*******
Note:
Balkon lantai 3 Alamanda: Mempertajam analisis wacana.
Kamis, Maret 10, 2011
Pesan Ayah Ibu......
Anakku yang ku sayangi.......
Pada suatu saat dikala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku.
Jika banyak makanan yang tercecer dikala aku makan.....
Jika aku kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri......sabarlah !!!
Kenanglah saat-saat dimana aku meluangkan waktuku untuk mengajarimu tentang segala hal yang kau perlu tahu, ketika kau masih kecil.
Jika aku mengulang mengatakan hal yang sama berpuluh kali, jangan menghentikanku ! Dengarlah aku !
Ketika kau kecil, kau selalu memintaku membacakan cerita yang sama berulang-ulang, dari malam yang satu ke malam yang lain hingga kau tertidur, dan aku lakukan itu untukmu !
Jika aku enggan mandi, jangan memarahiku dan jangan katakan kepadaku bahwa itu memalukan. Ingatlah berapa banyak pengertian yang ku berikan padamu menyuruhmu mandi dikala kecilmu.
Aku mengajarimu banyak hal....... Cara makan yang baik, cara berpakaian yang baik, berperilaku yang baik.....bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan.....!
Jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan, beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya jangan sombong dan memarahiku, karena yang penting bagiku adalah....aku dapat bersamamu dan dapat berbicara padamu.
Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku ! Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tak lapar.
Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku untuk bergerak seperti sebelumnya....bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku, mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu.....
Dan kala suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup......, ketika aku ingin mati...., jangan marah....., karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti !!!
Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu, kita tidak benar-benar 'hidup' lagi, kita hanya 'tidak mati'.
Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat, aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.
Kau tak usah merasa sedih, tidak beruntung atau gagal dihadapanku, melihat kondisiku dan usiaku yang sudah betambah tua.
Kau harus ada di dekatku, mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, kesuksesanmu, seperti apa yang ku lakukan pada saat kau lahir.
Bantulah aku untuk berjalan, bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran.
Satu hal yang membuatku harus berterimakasih padamu adalah senyum dan kecintaanmu padaku.
Aku mencintaimu anakku........
Ayah Ibumu......
Pada suatu saat dikala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku.
Jika banyak makanan yang tercecer dikala aku makan.....
Jika aku kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri......sabarlah !!!
Kenanglah saat-saat dimana aku meluangkan waktuku untuk mengajarimu tentang segala hal yang kau perlu tahu, ketika kau masih kecil.
Jika aku mengulang mengatakan hal yang sama berpuluh kali, jangan menghentikanku ! Dengarlah aku !
Ketika kau kecil, kau selalu memintaku membacakan cerita yang sama berulang-ulang, dari malam yang satu ke malam yang lain hingga kau tertidur, dan aku lakukan itu untukmu !
Jika aku enggan mandi, jangan memarahiku dan jangan katakan kepadaku bahwa itu memalukan. Ingatlah berapa banyak pengertian yang ku berikan padamu menyuruhmu mandi dikala kecilmu.
Aku mengajarimu banyak hal....... Cara makan yang baik, cara berpakaian yang baik, berperilaku yang baik.....bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan.....!
Jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan, beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya jangan sombong dan memarahiku, karena yang penting bagiku adalah....aku dapat bersamamu dan dapat berbicara padamu.
Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku ! Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tak lapar.
Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku untuk bergerak seperti sebelumnya....bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku, mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu.....
Dan kala suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup......, ketika aku ingin mati...., jangan marah....., karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti !!!
Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu, kita tidak benar-benar 'hidup' lagi, kita hanya 'tidak mati'.
Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat, aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.
Kau tak usah merasa sedih, tidak beruntung atau gagal dihadapanku, melihat kondisiku dan usiaku yang sudah betambah tua.
Kau harus ada di dekatku, mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, kesuksesanmu, seperti apa yang ku lakukan pada saat kau lahir.
Bantulah aku untuk berjalan, bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran.
Satu hal yang membuatku harus berterimakasih padamu adalah senyum dan kecintaanmu padaku.
Aku mencintaimu anakku........
Ayah Ibumu......
Kamis, Maret 03, 2011
Tuhan Sembilan Senti
Oleh: Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.
Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.
Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Sabtu, Juli 24, 2010
Air Mata, Simbol ‘Seribu Bahasa’
Beberapa hari ini waktu luangku di isi dengan mengelompokan kembali file-file di komputer, ini akibat ulah Si montir-montir ‘kece’ yang telah berbaik hati memformat semua data D dan E di CPU-ku. Niat hati mau memberantas virus yang menyerang program komputer, namun Allah menguji kesabaran,—takdir berkata lain—syukurnya ada data-dataku yang masih bisa diselamatkan sekitar 7 GB dari 22 GB yang tersimpan. Kejadian ini yang telah menuntun aku untuk membaca tulisanku tentang ‘Air Mata Gaza’. Tapi catatan ini bukanlah untuk membahas tulisan itu kembali. Aku hanya berfikir tentang ‘Air Mata’, sebuah tema yang menarik untuk dibahas—setidaknya bagi diriku secara pribadi.
Air mata adalah anugrah Illahi, sebagai—salah satu—bentuk kesempurnaan ciptaan-Nya. Sepanjang pengetahunku yang masih dangkal—air mata merupakan keunikan yang hanya dimiliki oleh manusia. Sangat bermanfaat bagi insan ciptaan-Nya, sebagai simbol untuk meluahkan ‘seribu bahasa’. Air mata mewakilkan ekspresi manusia tanpa tutur kata, bisa untuk menghanyutkan lelahnya jiwa, rasa duka, kecewa, dan bahkan bisa jadi ungkapan suka cita dan bahagia. Air mata bisa menjadi sarana untuk hal yang negatif, yang membuahkan dosa. Serta bisa untuk hal yang positif yang berbuah pahala di sisi-Nya.
Sungguh ajaib ciptaan Allah yang satu ini, berbentuk cairan bening yang keluar dari pelupuk mata meleleh menganak-sungai di pipi dan hanya diproduksi ketika dibutuhkan. Air mata buaya, ungkapan ini mungkin sudah familiar terdengar di telinga kita. Ini bukanlah air mata yang dikeluarkan oleh buaya, jenis hewan bertulang belakang yang melata itu. Tetapi air mata buaya merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut tangis pura-pura para penggombal dan pendusta. Biasanya mereka memakai air mata untuk memberdayakan mangsanya. Contoh penyalah gunaan karunia Tuhan untuk hal yang negatif.
Air mata para pecinta Al-Qur’an. Dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud ra. membaca awal surat An-Nisa’ di hadapan Rasulullah saw. dan ketika itu ia sampai pada ayat,
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu". [Q.S An-Nisa’ : 41]
Rasulullah saw berkata:
“Cukuplah sampai di situ bacaanmu, wahai Ibnu Mas’ud”.
Ibnu Mas’ud melanjutkan ceritanya, “Lantas Aku melihat ke arah beliau, dan Aku melihat kedua pelupuk matanya bercucuran air mata. Sungguh, Rasulullah saw orang yang sangat mencintai Allah, dan ketika mendengar kata-kata (firman) dari yang dicintainya, beliaupun menangis”.
Alkisah pada saat para sahabar Rasulullah saw berkumpul, Umar Bin Khattab ra berkata kepada Abu Musa,”Wahai Abu Musa, ingatkanlah kami kepada Tuhan kami”. Maka Abu Musa pun membacakan Al-Qur’an dengan suarannya yang indah, sementara para sahabat mencucurkan air matanya, “Sungguh aku ‘kan menangis mendengar firman-Nya. Bagaimanakah kiranya dengan mataku seandainya melihat wujud-Nya”.
Inilah air mata para pecinta Al-Qur’an, tangis yang bercucuran karena Tuhan bukan karena kemunafikan. Jadi bersyukurlah kita atas karunia Allah yang satu ini yaitu air mata, dengan menggunakannya untuk hal-hal yang diridhai-Nya, bukan untuk memberdayakan makhluk-Nya.
Wallahua’lam.
*******
Renungan ‘tuk menyambut bulan Ramadhan, bulan diturunnya Al-Qur’an.
Referensi: Dr. ‘Aidh Abdullah Al-Qarny. (2006). Renungan di Bulan Ramadhan. Jakarta: Cakrawala Publishing.
Air mata adalah anugrah Illahi, sebagai—salah satu—bentuk kesempurnaan ciptaan-Nya. Sepanjang pengetahunku yang masih dangkal—air mata merupakan keunikan yang hanya dimiliki oleh manusia. Sangat bermanfaat bagi insan ciptaan-Nya, sebagai simbol untuk meluahkan ‘seribu bahasa’. Air mata mewakilkan ekspresi manusia tanpa tutur kata, bisa untuk menghanyutkan lelahnya jiwa, rasa duka, kecewa, dan bahkan bisa jadi ungkapan suka cita dan bahagia. Air mata bisa menjadi sarana untuk hal yang negatif, yang membuahkan dosa. Serta bisa untuk hal yang positif yang berbuah pahala di sisi-Nya.
Sungguh ajaib ciptaan Allah yang satu ini, berbentuk cairan bening yang keluar dari pelupuk mata meleleh menganak-sungai di pipi dan hanya diproduksi ketika dibutuhkan. Air mata buaya, ungkapan ini mungkin sudah familiar terdengar di telinga kita. Ini bukanlah air mata yang dikeluarkan oleh buaya, jenis hewan bertulang belakang yang melata itu. Tetapi air mata buaya merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut tangis pura-pura para penggombal dan pendusta. Biasanya mereka memakai air mata untuk memberdayakan mangsanya. Contoh penyalah gunaan karunia Tuhan untuk hal yang negatif.
Air mata para pecinta Al-Qur’an. Dalam riwayat yang shahih disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud ra. membaca awal surat An-Nisa’ di hadapan Rasulullah saw. dan ketika itu ia sampai pada ayat,
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu". [Q.S An-Nisa’ : 41]
Rasulullah saw berkata:
“Cukuplah sampai di situ bacaanmu, wahai Ibnu Mas’ud”.
Ibnu Mas’ud melanjutkan ceritanya, “Lantas Aku melihat ke arah beliau, dan Aku melihat kedua pelupuk matanya bercucuran air mata. Sungguh, Rasulullah saw orang yang sangat mencintai Allah, dan ketika mendengar kata-kata (firman) dari yang dicintainya, beliaupun menangis”.
Alkisah pada saat para sahabar Rasulullah saw berkumpul, Umar Bin Khattab ra berkata kepada Abu Musa,”Wahai Abu Musa, ingatkanlah kami kepada Tuhan kami”. Maka Abu Musa pun membacakan Al-Qur’an dengan suarannya yang indah, sementara para sahabat mencucurkan air matanya, “Sungguh aku ‘kan menangis mendengar firman-Nya. Bagaimanakah kiranya dengan mataku seandainya melihat wujud-Nya”.
Inilah air mata para pecinta Al-Qur’an, tangis yang bercucuran karena Tuhan bukan karena kemunafikan. Jadi bersyukurlah kita atas karunia Allah yang satu ini yaitu air mata, dengan menggunakannya untuk hal-hal yang diridhai-Nya, bukan untuk memberdayakan makhluk-Nya.
Wallahua’lam.
*******
Renungan ‘tuk menyambut bulan Ramadhan, bulan diturunnya Al-Qur’an.
Referensi: Dr. ‘Aidh Abdullah Al-Qarny. (2006). Renungan di Bulan Ramadhan. Jakarta: Cakrawala Publishing.
Sabtu, Juni 05, 2010
Kebahagiaan: Keseimbangan Antara Tubuh, Akal dan Ruh

Judul buku: Seni Menikmati Hidup
Penulis: DR. Taufik A. Al-Kusayer
Penerjemah: Fakhruddin Sarkosih
Penerbit: Tarbawi Press
Cetakan: Pertama, 2009
Tebal: xxv - 409 halaman
Kebahagiaan dan kesuksesan adalah dua kata yang hampir setiap saat selalu kita cari dan kita perjuangkan dalam hidup ini. Kita belajar, bekerja, beribadah dan beraktifitas yang lain, semuanya bertujuan agar hari-hari kita diliputi kebahagiaan; ada senyum, ada tawa, ada ceria, ada cinta, serta ada eksistensi dan pengakuan.
Ironinya, untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan hidup di zaman sekarang bukanlah hal yang mudah, walaupun kita berada di era modern dengan berbagai fasilitas dan teknologi yang menunjang dan memudahkan kita untuk memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan. Akan tetapi, semua kemewahan fasilitas dan teknologi yang mendukung kita untuk mencapai kebahagiaan—pada umumnya—bersifat temporal, karena hanya berupa materi. Ini terbukti dengan banyaknya orang yang hidup bergelimang harta, namun hidupnya hampa. Ada yang stress, bimbang, cemas, merasa asing ditengah keluarga, dan hal-hal yang menimbulkan depresi serta jauh dari kebahagiaan yang diharapkan.
Berlatarkan fenomena seperti ini, para ahli psikologi banyak yang membahas tentang tema kebahagiaan (happiness), sehingga melahirkan aliran-aliran baru dalam psikologi tentang kebahagiaan. Hal ini terbukti dengan banyaknya kita temui buku-buku yang mengangkat tema tentang kebahagiaan, adanya seminar-seminar dan training motivasi, talk show di radio dan televisi, serta minculnya website yang juga mengangkat tema kebahagiaan.
Buku Seni Menikmati Hidup yang ditulis oleh DR. Tawfik Al-Kusayer, seorang ahli nuklir lulusan Iowa State University, USA, yang berasal dari Saudi Arabia ini merupakan salah satu buku yang mengangkat tema tentang kebahagiaan. Dengan tesis yang diusung yaitu, kebahagiaan adalah seni menyeimbangkan antara dimensi akal, tubuh dan ruh.
Al-Kusayer menyatakan bahwa sumber kebahagiaan yang hakiki berasal dari dalam diri seseorang, dengan perasaan ridho, ketenangan jiwa, keceriaan dan rasa menikmati. Dimensi akal, tubuh dan ruh ini merupakan faktor pendorong dan kekuatan yang saling berhubungan erat, yang musti dijaga keseimbangannya. Jika hubungan antara faktor pendorong dan kekuatan ini tidak seimbang, maka kebahagiaan itu akan kurang dan tidak sempurna.
Sementara menurut Al-Kusayer, faktor eksternal bukan merupakan sumber kebahagiaan, sehebat apapun itu, karena kondisi luar hanyalah bersifat temporal. Selama seseorang tidak menyiapkan faktor-faktor kebahagiaan secara internal, maka dia tidak akan meraih kebahagiaan, akan tetepi dia akan melewati gelombang kebahagiaan secara temporal dan berbentuk potongan-potongan yang tidak utuh dari kebahagiaan. Sehingga orang seperti ini bisa dikategorikan sebagai orang yang tidak bahagia (Al-Kusayer, 2009 : 41).
Buku ini bisa membantu kita untuk menemukan bagaimana cara membangun kebahagiaan dari dalam diri. Buku ini juga mengenalkan kepada kita, tentang metode-metode khusus dalam membangun kebahagiaan dan kepuasan hidup. Dilengkapi dengan CD yang berisi pertanyaan-pertanyaan, yang jika dijawab kita akan bisa melihat aura yang menyelubungi tubuh kita.
Tak tanggung-tanggung, DR. Al-Kusayer telah menghabiskan waktu selama lebih dari delapan tahun untuk mengeksplorasi, meneliti, mengkaji hasil terkini yang dicapai oleh pusat-pusat kajian internasional dari universitas-universitas besar, lembaga-lembaga serta laboratorium-laboratorium penelitian. Disertai lebih dari 150 referensi ilmiah modern yang berbicara tentang ilmu-ilmu energi, aura dan cara mengendalikannya. Sebelumnya, Al-Kusayer telah melakukan kajian yang mendalam, pemantauan yang sangat teliti tentang realitas masyarakat Arab dan masyarakat Barat sehingga bisa menghasilkan teori modern tentang prilaku manusia, faktor-faktor pendorongnya dan bagaimana aura dan spektrum yang menyelubungi tubuh manusia terbentuk, sehingga bisa menjadi perisai yang menjaganya dari pengaruh luar.
Uniknya, buku ini tetap tidak mengabaikan pendekatan dan perspektif agama, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai penghambat dalam mencari kebahagiaan. penulisnya telah berhasil memadukan kepakarannya dibidang energi dengan ilmu-ilmu Islam untuk mengungkap rahasia dan metode meraih kebahagiaan dan kesuksesan.
Sisi lemah dari buku ini masih terdapat kesalahan dalam pengetikan dan beberapa istilah yang rumit. Namun ini tak mengurangi kualitas buku, yang mampu mengungkapkan sumber-sumber kegelisahan, kesedihan dan perasaan cemas yang masuk ke wilayah ruh, akal dan tubuh, sehingga kita bisa menggantikannya dengan kebahagiaan, kepuasan, kesenangan dan kesuksesan.
Wallahu’alam
*******
Sabtu, Maret 27, 2010
Agama Bangsa Arab Sebelum Nubuwah
Pendahuluan
Sebelum Nubuwah (Risalah Islam) ada beberapa agama yang dianut oleh bangsa Arab. Agama Paganisme (penyembah berhala), Majusi(penyembah api), Shabi’ah (agama kaum Ibrahim Chaldeans) dan Agama Samawi (Yahudi dan Nasrani).
Pembahasan
1. Agama Paganisme
Pada awalnya bangsa Arab mengikuti dakwah Isma’il AS yang menyeru kepada millah (agama) Ibrahim AS, yang menyembah dan mengesakan Allah serta memeluk agama-Nya. Namun seiring dengan berjalannya waktu kebanyakan masyarakat Arab melalaikan Millah Ibrahim, walaupun masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar agama yang masih mereka pakai—seperti pengagungan terhadap Ka’bah, thawaf disekelilingnya, haji, umrah, wuquf di Arafah dan Muzdalifah—hingga datangnya seorang lelaki yang bernama Amr bin Luhay [Sang Agen/Sang Perantara, meminjam istilah Salim A. Fillah—pen] pemimpin Bani Khuza’ah. Dia dikenal sebagai seorang yang bijak, rajin bersedekah dan sangat peduli dengan urusan agama, sehingga semua orang mencintainnya dan hampir-hampir kaumnya menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang disegani.
Pada suatu ketika Amr bin Luhay melakukan perjalanan ke Syam, sebuah negeri yang ketika itu menjadi model kemajuan. Dari Makkah ke Syam, ia seperti orang udik masuk peradaban—jika dibandingkan dengan saat ini mirip orang Indonesia ke Amerika Serikat. Di sana, dilihatnya penduduk Syam ini menyembah berhala. Tanpa perlu ikut ‘kuliah bertahun-tahun’—atau cuci otak—Amr bin Luhay ini langsung menyimpulkan ini adalah hal yang baik dan benar. Dengan logika yang simpel ia berargumen “Syam adalah tanah tempat diutusnya para Rasul dan negeri diturunkannya kitab suci”.
Sepulangnya dari melancong ke Syam, Amr bin Luhay membawa ‘oleh-oleh’ Hubal [sebuah hardware berhala yang disertai software kemusyrikan—istilah Salim A. Fillah, pen] dan meletaknya di dalam Ka’bah. Maka penduduk Makkah yang menganggapnya sebagai ulama, segera mengikuti penyekutuan terhadap Allah. Hampir seluruh orang-orang dataran Hijaz, Najd, Yamamah hingga Yaman mengikuti penduduk Makkah—karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk Tanah Suci—ini ditandai dengan munculnya berhala Manat yang ditempatkan di Musyallal di tepi Laut Merah di dekat Qudadi, Lataa di Tha’if dan Uzza di Wadi Nakhlah. Manat, Lataa dan Uzza ini merupakan tiga berhala yang paling besar. Setelah itu kemusyrikan semakin merebak dan bermunculan berhala-berhala yang lebih kecil di setiap tempat Hijaz.
Melangkah lebih jauh, Amr bin Luhay ini melakukan penggalian arkeologis terhadap berhala-berhala kaum Nuh yang terpendam disekitar Jiddah. Dia berhasil menemukan kembali Wadd, Suwa’, Yaghuts, Yu’uq dan Nasr, dengan bantuan jin. Potret orang-orang shalih yang dipertuhankan itu dibawa ke Tihamah, dan setelah musim haji ditempatkan kembali kedudukannya sebagai sesembahan. Sehingga setiap kabilah dan setiap rumah hampir pasti ada berhalanya. Mereka juga memenuhi Masjidil-Haram dengan berbagai macam berhala dan patung. Tatkala Rasulullah SAW menaklukan Makkah, disekitar Ka’bah ada 360 berhala, beliau menghancurkan berhala itu, mengeluarkannya dari masjid dan membakarnya.
Tak hanya itu, Amr bin Luhay juga menciptakan beberapa tradisi dan penyembahan terhadap berhala. Sementara orang-orang mengira apa yang dilakukannya itu sesuatu yang baru dan tidak mengubah agama Ibrahim. Ritual yang dilakukan terhadap berhala yaitu thawaf, bersujud dan memohon sesuatu kepada berhala, berhaji, berkurban dan bernadzar untuk berhala. Serta aneka ritual lainnya yang menjijikan bagi kita, tapi tidak bagi masyarakat Makkah ketika itu, yang dengan kagum memandang Amr bin Luhay.
Kemudian muncul pertanyaan, Apakah sebodoh itu bangsa Arab Jahiliyah, dengan mudahnya menerima dan mengikuti ritual baru yang diciptakan oleh Amr bin Luhay ? Adakah seperangkat logika yang meyakinkan bangsa Arab atas ritual paganisme ini ? Ternyata memang ada—‘logika perantara’—yang diproklamasikan oleh Amr bin Luhay, Sang Agen, pembawa ide logika perantara paganisme di Jazirah Arab.
“...kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya...” (Q.S Az-Zumar :3)
“Allah”, kata kunci logika itu, “Dzat yang Menciptakan kita, dia itu Maha Tinggi, Maha Mulia, dan Maha Suci. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang rendah, hina dan penuh noda. Sungguh tak pantas, makhluk yang rendah memohon langsung pada Yang maha Tinggi. Sungguh tak patut makhluk yang hina bersimpuh didekat-Nya Yang Maha Mulia. Dan sungguh tak layak bagi insan penuh noda mencoba meraih kasih-Nya Yang Maha Suci. Sungguh Dia Maha Agung di langit, takkan terjangkau bagi kita yang berkubangan di palung samudera kehinaan.” Sehingga logikanya manusia butuh ‘perantara’.
Kita ambil contoh terhadap Lataa, salah satu berhala terbesar, yang namanya ditafsirkan sebagai bentuk feminin dari kata Allah.. Lataa adalah seorang wanita yang kaya dan dermawan, setiap tahunnya selalu menjamu para tamu Allah yang datang berhaji ke Baittullah dengan jamuan roti nan lebar yang dicelupkan ke kuah daging yang kental dan minuman yang menyegarkan. Bahkan jamaah haji ini kalau kekurangan dana maka katakan pada Lataa, dia akan menyantuni para tamu Allah itu. Setelah wafatnya Lataa, ia dijadikan sesembahan.
Logikanya, dengan melihat kedekatan Lataa dengan Allah, dan ‘jasa’ Lataa dalam memberikan pelayanan dan jamuan terhadap tetamu Allah—dialah perantara yang tepat—tentu Lataa sudah diberi banyak kewenangan oleh Allah di surga untuk menentukan nasib manusia di dunia—istilah kerennya, pasti Lataa telah jadi asisten Allah yang mengurusi bidang tertentu. “Jadi kalau meminta hal yang remeh-remeh, nggak usah pada Allah. Malu-maluin! [Masak Allah ngurusin hal-hal remeh, masih banyak pekerjaan Allah yang lain yang lebih besar dari yang kita minta, makanya permohonan kita yang kecil-kecil itu ditundanya. Kan sudah ada Lataa asisten Allah di surga sana! Minta saja sama Lataa !!!]. Jadi buat apa repot-repot menyembah Allah kalau Lataa lebih ngertiin kita !!!
Na’udzubillah tsumma na’udzubillah. Luar biasa logika perantara ini. Begitu juga dengan Manat, ‘Uzza, Hubal dan ratusan berhala lain—dan bahkan para malaikat dilogikakan. Merunut sejarahnya, logika ini juga terpakai dalam penuhanan Isa sebagai juru selamat yang dianggap menebus dosa manusia di kayu salib. Atau ketika orang Yahudi begitu bersemangat mengatakan ‘Uzair anak Allah. Dan bahkan pada penuhanan orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Yu’uq dan Nasr. Logika perantara ini begitu mendarah syaraf di tubuh kemusyrikan.
Sedihnya, logika ini tak kunjung lenyap. Bahkan hingga kini. Banyak dukun, paranormal, hingga yang menyebut diri Ustadz dan Kyai menggunakan logika ini untuk meraih sesuatu di sisi manusia. Mereka mengambil peran ‘perantara’. Dan manusia pun berbondong-bondong memakainya untuk memintas jalan hajat hidup mereka.
2. Agama Majusi
Lebih banyak berkembang dikalangan orang-orang Arab yang berdekatan dengan orang-orang Persi. Juga berkembang dikalangan orang-orang Arab Iraq dan Bahrain serta wilayah pesisir Teluk Arab dan Ada juga di Yaman.
3. Agama Shabi’ah, menurut beberapa catatan dan kisah berkembang di Iraq dan tempat lainnya, yang dianggap sebagai agama kaum Ibrahim Chaldeans.
4. Agama Yahudi dan Nasrani.
Orang-orang Yahudi mempunyai dua latar belakang, sehingga mereka berada di wilayah Jazirah Arab. Pertama, eksodus pada masa penaklukan bangsa Babilonia dan Asyur di Palestina di tangan Bukhtanashar pada tahun 587 SM. Sebagian dari mereka meninggalkan Palestina dan pindah ke Hijas bagian utara. Kedua, pencaplokan bangsa Romawi terhadap Palestina pada tahun 70 Masehi. Bangsa Romawi menekan orang-orang Yahudi dan menghancurkan haikal-haikal mereka, sehingga kabilah-kabilah Yahudi pindah ke Hijas, lalu menetap di Yatsrib, Khaibar dan Taima. Hingga Islam datang kabilah Yahudi yang terkenal adalah Khaibar, Nadhir, Musthaliq, Quraizhah dan Qainuqa.
Sedangakan agama Nasrani masuk ke Jazirah Arab lewat pendudukan orang-orang Habasyah dan Romawi. Habasyah menakluk Yaman pada tahun 340 M, kemudian Dzu Nuwas dan Abrahah kemudian menjadi penguasa baru di Yaman. Mereka begitu bersemangat menyebarkan agama Masehi, sampai-sampai Abrahah membangun gereja di Yaman yang dinamakan Ka’bah Yaman. Dia menginginkan agar semua bangsa Arab berhaji ke gereja ini dan hendak menghancurkan Baitullah di Makkah. Namun Allah membinasakannya. Sedangkan Bangsa Arab memeluk agama Nasrani ini dari suku-suku Ghassan, kabilah-kabilah Taghlib, Thayyi dan yang berdekatan dengan orang-orang Romawi.
Penutup
Inilah agama-agama yang ada di Jazirah Arab pada saat kedatangan Islam, yaitu Paganisme, Majusi Shabi’ah, Yahudi dan Nasrani. Namun agama itu sudah banyak disusupi penyimpangan dan hal-hal yang merusak. Tradisi dan kebiasaan yang menggambarkan berbagai macam khurafat dalam kehidupan agama, kemudian mengimbas ke kehidupan sosial dan politik.
Tema kali ini lebih banyak membahas mengenai paganisme ala bangsa Arab Jahiliah yang membuat sekutu-sekutu Allah dengan rumusan ‘logika perantara’ dalam beribadah, dan jika dibandingkan betapa simpelnya theologi Islam, yaitu Allahu Ahad, Allah itu Esa, Tiada tuhan selain Allah, tak ada sesutu apapun yang pantas menjadi sekutu dan berhak untuk disembah selain kepada-Nya. Lalu pelajaran atau hikmah apa yang dapat kita petik dari tema ini ?
Wallahu’allam
*********
Sumber:
Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury. (2008). Sirah Nabawiyah.Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Salim A. Fillah. (2006). Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U Media.
Sebelum Nubuwah (Risalah Islam) ada beberapa agama yang dianut oleh bangsa Arab. Agama Paganisme (penyembah berhala), Majusi(penyembah api), Shabi’ah (agama kaum Ibrahim Chaldeans) dan Agama Samawi (Yahudi dan Nasrani).
Pembahasan
1. Agama Paganisme
Pada awalnya bangsa Arab mengikuti dakwah Isma’il AS yang menyeru kepada millah (agama) Ibrahim AS, yang menyembah dan mengesakan Allah serta memeluk agama-Nya. Namun seiring dengan berjalannya waktu kebanyakan masyarakat Arab melalaikan Millah Ibrahim, walaupun masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar agama yang masih mereka pakai—seperti pengagungan terhadap Ka’bah, thawaf disekelilingnya, haji, umrah, wuquf di Arafah dan Muzdalifah—hingga datangnya seorang lelaki yang bernama Amr bin Luhay [Sang Agen/Sang Perantara, meminjam istilah Salim A. Fillah—pen] pemimpin Bani Khuza’ah. Dia dikenal sebagai seorang yang bijak, rajin bersedekah dan sangat peduli dengan urusan agama, sehingga semua orang mencintainnya dan hampir-hampir kaumnya menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang disegani.
Pada suatu ketika Amr bin Luhay melakukan perjalanan ke Syam, sebuah negeri yang ketika itu menjadi model kemajuan. Dari Makkah ke Syam, ia seperti orang udik masuk peradaban—jika dibandingkan dengan saat ini mirip orang Indonesia ke Amerika Serikat. Di sana, dilihatnya penduduk Syam ini menyembah berhala. Tanpa perlu ikut ‘kuliah bertahun-tahun’—atau cuci otak—Amr bin Luhay ini langsung menyimpulkan ini adalah hal yang baik dan benar. Dengan logika yang simpel ia berargumen “Syam adalah tanah tempat diutusnya para Rasul dan negeri diturunkannya kitab suci”.
Sepulangnya dari melancong ke Syam, Amr bin Luhay membawa ‘oleh-oleh’ Hubal [sebuah hardware berhala yang disertai software kemusyrikan—istilah Salim A. Fillah, pen] dan meletaknya di dalam Ka’bah. Maka penduduk Makkah yang menganggapnya sebagai ulama, segera mengikuti penyekutuan terhadap Allah. Hampir seluruh orang-orang dataran Hijaz, Najd, Yamamah hingga Yaman mengikuti penduduk Makkah—karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk Tanah Suci—ini ditandai dengan munculnya berhala Manat yang ditempatkan di Musyallal di tepi Laut Merah di dekat Qudadi, Lataa di Tha’if dan Uzza di Wadi Nakhlah. Manat, Lataa dan Uzza ini merupakan tiga berhala yang paling besar. Setelah itu kemusyrikan semakin merebak dan bermunculan berhala-berhala yang lebih kecil di setiap tempat Hijaz.
Melangkah lebih jauh, Amr bin Luhay ini melakukan penggalian arkeologis terhadap berhala-berhala kaum Nuh yang terpendam disekitar Jiddah. Dia berhasil menemukan kembali Wadd, Suwa’, Yaghuts, Yu’uq dan Nasr, dengan bantuan jin. Potret orang-orang shalih yang dipertuhankan itu dibawa ke Tihamah, dan setelah musim haji ditempatkan kembali kedudukannya sebagai sesembahan. Sehingga setiap kabilah dan setiap rumah hampir pasti ada berhalanya. Mereka juga memenuhi Masjidil-Haram dengan berbagai macam berhala dan patung. Tatkala Rasulullah SAW menaklukan Makkah, disekitar Ka’bah ada 360 berhala, beliau menghancurkan berhala itu, mengeluarkannya dari masjid dan membakarnya.
Tak hanya itu, Amr bin Luhay juga menciptakan beberapa tradisi dan penyembahan terhadap berhala. Sementara orang-orang mengira apa yang dilakukannya itu sesuatu yang baru dan tidak mengubah agama Ibrahim. Ritual yang dilakukan terhadap berhala yaitu thawaf, bersujud dan memohon sesuatu kepada berhala, berhaji, berkurban dan bernadzar untuk berhala. Serta aneka ritual lainnya yang menjijikan bagi kita, tapi tidak bagi masyarakat Makkah ketika itu, yang dengan kagum memandang Amr bin Luhay.
Kemudian muncul pertanyaan, Apakah sebodoh itu bangsa Arab Jahiliyah, dengan mudahnya menerima dan mengikuti ritual baru yang diciptakan oleh Amr bin Luhay ? Adakah seperangkat logika yang meyakinkan bangsa Arab atas ritual paganisme ini ? Ternyata memang ada—‘logika perantara’—yang diproklamasikan oleh Amr bin Luhay, Sang Agen, pembawa ide logika perantara paganisme di Jazirah Arab.
“...kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya...” (Q.S Az-Zumar :3)
“Allah”, kata kunci logika itu, “Dzat yang Menciptakan kita, dia itu Maha Tinggi, Maha Mulia, dan Maha Suci. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang rendah, hina dan penuh noda. Sungguh tak pantas, makhluk yang rendah memohon langsung pada Yang maha Tinggi. Sungguh tak patut makhluk yang hina bersimpuh didekat-Nya Yang Maha Mulia. Dan sungguh tak layak bagi insan penuh noda mencoba meraih kasih-Nya Yang Maha Suci. Sungguh Dia Maha Agung di langit, takkan terjangkau bagi kita yang berkubangan di palung samudera kehinaan.” Sehingga logikanya manusia butuh ‘perantara’.
Kita ambil contoh terhadap Lataa, salah satu berhala terbesar, yang namanya ditafsirkan sebagai bentuk feminin dari kata Allah.. Lataa adalah seorang wanita yang kaya dan dermawan, setiap tahunnya selalu menjamu para tamu Allah yang datang berhaji ke Baittullah dengan jamuan roti nan lebar yang dicelupkan ke kuah daging yang kental dan minuman yang menyegarkan. Bahkan jamaah haji ini kalau kekurangan dana maka katakan pada Lataa, dia akan menyantuni para tamu Allah itu. Setelah wafatnya Lataa, ia dijadikan sesembahan.
Logikanya, dengan melihat kedekatan Lataa dengan Allah, dan ‘jasa’ Lataa dalam memberikan pelayanan dan jamuan terhadap tetamu Allah—dialah perantara yang tepat—tentu Lataa sudah diberi banyak kewenangan oleh Allah di surga untuk menentukan nasib manusia di dunia—istilah kerennya, pasti Lataa telah jadi asisten Allah yang mengurusi bidang tertentu. “Jadi kalau meminta hal yang remeh-remeh, nggak usah pada Allah. Malu-maluin! [Masak Allah ngurusin hal-hal remeh, masih banyak pekerjaan Allah yang lain yang lebih besar dari yang kita minta, makanya permohonan kita yang kecil-kecil itu ditundanya. Kan sudah ada Lataa asisten Allah di surga sana! Minta saja sama Lataa !!!]. Jadi buat apa repot-repot menyembah Allah kalau Lataa lebih ngertiin kita !!!
Na’udzubillah tsumma na’udzubillah. Luar biasa logika perantara ini. Begitu juga dengan Manat, ‘Uzza, Hubal dan ratusan berhala lain—dan bahkan para malaikat dilogikakan. Merunut sejarahnya, logika ini juga terpakai dalam penuhanan Isa sebagai juru selamat yang dianggap menebus dosa manusia di kayu salib. Atau ketika orang Yahudi begitu bersemangat mengatakan ‘Uzair anak Allah. Dan bahkan pada penuhanan orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Yu’uq dan Nasr. Logika perantara ini begitu mendarah syaraf di tubuh kemusyrikan.
Sedihnya, logika ini tak kunjung lenyap. Bahkan hingga kini. Banyak dukun, paranormal, hingga yang menyebut diri Ustadz dan Kyai menggunakan logika ini untuk meraih sesuatu di sisi manusia. Mereka mengambil peran ‘perantara’. Dan manusia pun berbondong-bondong memakainya untuk memintas jalan hajat hidup mereka.
2. Agama Majusi
Lebih banyak berkembang dikalangan orang-orang Arab yang berdekatan dengan orang-orang Persi. Juga berkembang dikalangan orang-orang Arab Iraq dan Bahrain serta wilayah pesisir Teluk Arab dan Ada juga di Yaman.
3. Agama Shabi’ah, menurut beberapa catatan dan kisah berkembang di Iraq dan tempat lainnya, yang dianggap sebagai agama kaum Ibrahim Chaldeans.
4. Agama Yahudi dan Nasrani.
Orang-orang Yahudi mempunyai dua latar belakang, sehingga mereka berada di wilayah Jazirah Arab. Pertama, eksodus pada masa penaklukan bangsa Babilonia dan Asyur di Palestina di tangan Bukhtanashar pada tahun 587 SM. Sebagian dari mereka meninggalkan Palestina dan pindah ke Hijas bagian utara. Kedua, pencaplokan bangsa Romawi terhadap Palestina pada tahun 70 Masehi. Bangsa Romawi menekan orang-orang Yahudi dan menghancurkan haikal-haikal mereka, sehingga kabilah-kabilah Yahudi pindah ke Hijas, lalu menetap di Yatsrib, Khaibar dan Taima. Hingga Islam datang kabilah Yahudi yang terkenal adalah Khaibar, Nadhir, Musthaliq, Quraizhah dan Qainuqa.
Sedangakan agama Nasrani masuk ke Jazirah Arab lewat pendudukan orang-orang Habasyah dan Romawi. Habasyah menakluk Yaman pada tahun 340 M, kemudian Dzu Nuwas dan Abrahah kemudian menjadi penguasa baru di Yaman. Mereka begitu bersemangat menyebarkan agama Masehi, sampai-sampai Abrahah membangun gereja di Yaman yang dinamakan Ka’bah Yaman. Dia menginginkan agar semua bangsa Arab berhaji ke gereja ini dan hendak menghancurkan Baitullah di Makkah. Namun Allah membinasakannya. Sedangkan Bangsa Arab memeluk agama Nasrani ini dari suku-suku Ghassan, kabilah-kabilah Taghlib, Thayyi dan yang berdekatan dengan orang-orang Romawi.
Penutup
Inilah agama-agama yang ada di Jazirah Arab pada saat kedatangan Islam, yaitu Paganisme, Majusi Shabi’ah, Yahudi dan Nasrani. Namun agama itu sudah banyak disusupi penyimpangan dan hal-hal yang merusak. Tradisi dan kebiasaan yang menggambarkan berbagai macam khurafat dalam kehidupan agama, kemudian mengimbas ke kehidupan sosial dan politik.
Tema kali ini lebih banyak membahas mengenai paganisme ala bangsa Arab Jahiliah yang membuat sekutu-sekutu Allah dengan rumusan ‘logika perantara’ dalam beribadah, dan jika dibandingkan betapa simpelnya theologi Islam, yaitu Allahu Ahad, Allah itu Esa, Tiada tuhan selain Allah, tak ada sesutu apapun yang pantas menjadi sekutu dan berhak untuk disembah selain kepada-Nya. Lalu pelajaran atau hikmah apa yang dapat kita petik dari tema ini ?
Wallahu’allam
*********
Sumber:
Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury. (2008). Sirah Nabawiyah.Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Salim A. Fillah. (2006). Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U Media.
Minggu, Juni 07, 2009
Hujan
Diluar hujan lebat, aku jadi ingat dengan kata-kata ustadz sewaktu wirid dimasjid “hujan itu adalah rahmat dari Allah”. Aku pikir ini memang benar hujan itu rahmat, malam ini suhu menjadi sejuk dengan hujan yang lebat, sangat kontras dengan suasana tadi siang yang cuaca panas menyengat. Ketika ikut seminar tadi bajuku sampai basah oleh keringat karena cuaca panas yang menyengat. Disamping itu rumput dan pepohonan yang menguning jadi segar kembali karena telah disirami oleh air hujan, begitu juga dengan debu-debu dijalanan menjadi hilang karena disiram air hujan.
Namun, hujan juga bisa mendatangkan bencana bagi makhluk ciptaan Allah, seperti banjir. Misalnya saja dikota Padang ini jika hujan turun selama lebih dari 1 hari bisa mendatangkan banjir. Ini dikarenakan selokan kurang berfungsi dengan baik. Seharusnya selokan ini berfungsi sebagai tempat pengaliran air namun realitanya selokan banyak yang berfungsi ganda sebagai tempat pembuangan sampah. Sehingga bila terjadi hujan lebat, selokan tidak bisa menampung curahan air hujan, dikarenakan sampah yang menumpuk didalam selokan. Hal ini membuat selokan jadi mampet dan air tidak dapat mengalir dengan lancar, sehingga air menjadi tergenang.
Genang air lama kelamaan akan bertambah jika hujan tidak reda, dan selokan tidak mampu lagi menampung air sehingga air diselokan meluap. Sifat air, air akan mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Luapan air dari selokan ini akan mencari tempat-tempat yang rendah sebagai tempat penampungan, seperti jalan, pemukiman penduduk, dll. Genangan inilah yang membuat banjir.
Namun, hujan juga bisa mendatangkan bencana bagi makhluk ciptaan Allah, seperti banjir. Misalnya saja dikota Padang ini jika hujan turun selama lebih dari 1 hari bisa mendatangkan banjir. Ini dikarenakan selokan kurang berfungsi dengan baik. Seharusnya selokan ini berfungsi sebagai tempat pengaliran air namun realitanya selokan banyak yang berfungsi ganda sebagai tempat pembuangan sampah. Sehingga bila terjadi hujan lebat, selokan tidak bisa menampung curahan air hujan, dikarenakan sampah yang menumpuk didalam selokan. Hal ini membuat selokan jadi mampet dan air tidak dapat mengalir dengan lancar, sehingga air menjadi tergenang.
Genang air lama kelamaan akan bertambah jika hujan tidak reda, dan selokan tidak mampu lagi menampung air sehingga air diselokan meluap. Sifat air, air akan mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Luapan air dari selokan ini akan mencari tempat-tempat yang rendah sebagai tempat penampungan, seperti jalan, pemukiman penduduk, dll. Genangan inilah yang membuat banjir.
Kamis, Mei 07, 2009
Mentari Pagi
Matahari pagi malu-malu memancarkan sinarnya, cahayanya menyusup melalui jendela menerangi ruangan tempat tinggal ku. Masih terlihat jelas sisa-sisa hujan semalam disekitar tempat tinggal ku. Ini terlihat dari genangan air di depan, disudut selatan dan utara rumah ku. Serta tetesan air di dedaunan pohon jambu, mangga dan bunga-bunga yang tumbuh ditaman, merupakan bukti turunnya hujan semalam.
Saat ini aku tengah berdiri dibalkon menikmati hangatnya sinar mentari pagi. Tak terasa sudah 30 menit lamanya aku berdiri disini, sekarang sudah menunjukan pukul 7:02 am. Sinar mentari mampu menghangatkan tubuhku yang kedinginan sehabis mandi. Aku masih malas meninggalkan balkon, betah berlama-lama berdiri disini. Kalaulah tidak ingat dengan aktifitas yang harus dikerjakan mungkin aku tidak akan beranjak dari tempat aku berdiri.
*****
Saat ini aku tengah berdiri dibalkon menikmati hangatnya sinar mentari pagi. Tak terasa sudah 30 menit lamanya aku berdiri disini, sekarang sudah menunjukan pukul 7:02 am. Sinar mentari mampu menghangatkan tubuhku yang kedinginan sehabis mandi. Aku masih malas meninggalkan balkon, betah berlama-lama berdiri disini. Kalaulah tidak ingat dengan aktifitas yang harus dikerjakan mungkin aku tidak akan beranjak dari tempat aku berdiri.
*****
Sabtu, April 18, 2009
Nuansa Langit di Pagi Hari
Kamis, April 16, 2009
Pengalaman Pulang Kampung
Seminggu lamanya aku berada di kampung, segudang pengalaman yang aku dapatkan. Rasanya ingin mempostkan tulisan ke blog, menceritakan dan berbagi pengalaman seru, tapi sayang di kampung ku belum ada jaringan internet. Online hanya bisa melalu GPRS. berselancar melalu GPRS tak terlalu mengasikan karena loading yang lamban.
Selasa, Maret 31, 2009
Andaikan Doraemon & Mesin Waktu Benar-Benar Nyata
Siapa yang tak kenal dengan Doraemon ? Hampir semua sahabat-sahabatku di Alamanda menjadi penggemar tokoh kartun Jepang yang satu ini. Doraemon, si robot kucing dengan kantong ajaib yang bisa mengeluarkan benda-benda aneh nan canggih tuk membantu Nobita, telah memberi inspirasi kepada ku untuk menulis ini. Diiringi oleh instrument Crystal-Toshikazu, ingatan ku melayang melintas ruang dan waktu, menuju ke masa lalu, mengenang masa-masa kecil ku, saat masih tinggal "dibawah lindungan" Ayah-Bunda ku…
Aku jadi ingat dengan Doraemon si robot kucing, salah satu tokoh kartun kegemaran ku. Andaikan Doraemon benar-benar nyata, akan aku pinta padanya untuk mengeluarkan mesin waktu. Aku akan kembali ke waktu 5 tahun yang lalu, dimana waktu itu ayahku masih hidup. Aku hanya ingin menyampaikan satu hal kepada beliau, “Ayah, aku mencintai mu…terima kasih ayah, engkau telah merawat dan membesarkan aku dengan sangat baik”. Satu kalimat yang tak pernah terucapkan dari bibir ku untuk ayah semasa hidupnya.
Ayah, engkau telah menjadikan aku begitu istimewa, di rumah mu aku begitu spesial. Aku heran, kenapa bisa seperti ini ? Aku pikir, tak ada yang spesial dari ku, hampir tak ada prestasi yang membanggakan yang aku persembahkan untuk mu ayah. Seingat ku prestasi terakhir yang aku persembahkan untuk mu, yaitu saat aku diterima kuliah di dua Universitas yang cukup bergengsi di pulau Sumatera. Bagi ku ini prestasi yang biasa-biasa saja, bukanlah prestasi yang hebat. Tapi aku melihat ada senyum bahagia dan bangga dibibir mu.
Karena aku lulus di dua Universitas, muncul masalah baru, bimbang menentukan kuliah di Universitas mana ? Aku harus memilih untuk kuliah di fakultas ekonomi atau fakultas ilmu-ilmu sosial ? Saat itu aku lebih memilih untuk kuliah di fakultas ekonomi sesuai dengan minat ku, menjadi wanita karir. Tapi engkau menginginkan aku untuk menjadi guru yang mendidik orang dari tak tau menjadi tau, aku urung mendaftar kuliah di fakultas ekonomi karena tak ingin mengecewakan mu ayah. Akhirnya aku mendaftar di fakultas ilmu-ilmu sosial yang konsentrasi terhadap pendidikan, mencetak tenaga guru. Tapi berat bagi ku untuk menjalani kuliah yang tak sesuai dengan minat ku. Dalam mindset ku, tanggungjawab guru sangatlah berat, beda dengan profesi lain, tak sebanding antara tanggungjawab dengan penghasilan yang didapatkan.
Astaghfirullah, saat itu pikiran ku terlalu picik. Hanya mengukur materi, yang merupakan kebahagiaan sesaat. Tak pernah terpikirkan oleh ku bahwa guru sangat kaya, guru terus memberi tanpa kekurangan. Sekarang aku menyesal baru tersadar. Aku juga telah mengecewakan mu ayah, maafkanlah aku…
Ayah, maafkanlah putri mu yang tak sempat bahagiakan mu…
Ya Robbi, aku mohon pada Mu, ampunilah segala dosanya. Ya Robbi, ku pinta pada Mu jadikanlah ia ahli syurga mu. Ya Robbi, izinkanlah kami tuk berkumpul kembali, bahagia selalu di syurga Mu…
Ayah, aku mencintai mu… Terima kasih untuk air mata, kesabaran dan cinta tulus yang telah engkau curahkan pada ku. Ayah, engkau pahlawan ku, yang tak pernah berbalas waktu… Ayah, walaupun jasad mu telah lapuk dimakan waktu, namun engkau terus hidup didalam sanubari dan ingatan ku. Kenangan bersama mu kan tetap menjadi kisah hidup ku.
Putri mu, yang selalu merindukan mu…
Aku jadi ingat dengan Doraemon si robot kucing, salah satu tokoh kartun kegemaran ku. Andaikan Doraemon benar-benar nyata, akan aku pinta padanya untuk mengeluarkan mesin waktu. Aku akan kembali ke waktu 5 tahun yang lalu, dimana waktu itu ayahku masih hidup. Aku hanya ingin menyampaikan satu hal kepada beliau, “Ayah, aku mencintai mu…terima kasih ayah, engkau telah merawat dan membesarkan aku dengan sangat baik”. Satu kalimat yang tak pernah terucapkan dari bibir ku untuk ayah semasa hidupnya.
Ayah, engkau telah menjadikan aku begitu istimewa, di rumah mu aku begitu spesial. Aku heran, kenapa bisa seperti ini ? Aku pikir, tak ada yang spesial dari ku, hampir tak ada prestasi yang membanggakan yang aku persembahkan untuk mu ayah. Seingat ku prestasi terakhir yang aku persembahkan untuk mu, yaitu saat aku diterima kuliah di dua Universitas yang cukup bergengsi di pulau Sumatera. Bagi ku ini prestasi yang biasa-biasa saja, bukanlah prestasi yang hebat. Tapi aku melihat ada senyum bahagia dan bangga dibibir mu.
Karena aku lulus di dua Universitas, muncul masalah baru, bimbang menentukan kuliah di Universitas mana ? Aku harus memilih untuk kuliah di fakultas ekonomi atau fakultas ilmu-ilmu sosial ? Saat itu aku lebih memilih untuk kuliah di fakultas ekonomi sesuai dengan minat ku, menjadi wanita karir. Tapi engkau menginginkan aku untuk menjadi guru yang mendidik orang dari tak tau menjadi tau, aku urung mendaftar kuliah di fakultas ekonomi karena tak ingin mengecewakan mu ayah. Akhirnya aku mendaftar di fakultas ilmu-ilmu sosial yang konsentrasi terhadap pendidikan, mencetak tenaga guru. Tapi berat bagi ku untuk menjalani kuliah yang tak sesuai dengan minat ku. Dalam mindset ku, tanggungjawab guru sangatlah berat, beda dengan profesi lain, tak sebanding antara tanggungjawab dengan penghasilan yang didapatkan.
Astaghfirullah, saat itu pikiran ku terlalu picik. Hanya mengukur materi, yang merupakan kebahagiaan sesaat. Tak pernah terpikirkan oleh ku bahwa guru sangat kaya, guru terus memberi tanpa kekurangan. Sekarang aku menyesal baru tersadar. Aku juga telah mengecewakan mu ayah, maafkanlah aku…
Ayah, maafkanlah putri mu yang tak sempat bahagiakan mu…
Ya Robbi, aku mohon pada Mu, ampunilah segala dosanya. Ya Robbi, ku pinta pada Mu jadikanlah ia ahli syurga mu. Ya Robbi, izinkanlah kami tuk berkumpul kembali, bahagia selalu di syurga Mu…
Ayah, aku mencintai mu… Terima kasih untuk air mata, kesabaran dan cinta tulus yang telah engkau curahkan pada ku. Ayah, engkau pahlawan ku, yang tak pernah berbalas waktu… Ayah, walaupun jasad mu telah lapuk dimakan waktu, namun engkau terus hidup didalam sanubari dan ingatan ku. Kenangan bersama mu kan tetap menjadi kisah hidup ku.
Putri mu, yang selalu merindukan mu…
Kamis, Maret 26, 2009
Jadwal Rihlah Alamanda yang Di Tunda
Menurut perencanaan, hari ini Wisma Alamanda akan mengadakan Rihlah Gabungan, namun batal. Dengan berbagai macam pertimbangan Acara Rihlah Gabungan ditunda sampai 19 April 2009. Salah satu alasan ditundanya acara rihlah gabungan ini, karena persiapan panitia dan tempat yang belum clear.
Bagi Alumni Alamanda bisa ikutan Rihlah Gabungan yang diadakan pada 19 April 2009
Bagi Alumni Alamanda bisa ikutan Rihlah Gabungan yang diadakan pada 19 April 2009
Sabtu, Maret 21, 2009
Masa Taaruf Alamanda (MASTAMA) "Bangkitlah Wismaku Harapan Itu Masih Ada"... bagian 1
Sabtu (21/03) pukul 16:30 rangkaian acara puncak MASTAMA Periode 89 dibuka secara resmi oleh Naqibah Alamanda Dua, dengan tema “Bangkitlah Wismaku Harapan Itu Masih Ada”. Mars MASTAMA kali ini terinspirasi dari nasyid Bangkitlah-Shautul Harakah, “Bangkitlah wismaku harapan itu masih ada, Berjuanglah akhwatku jalan itu masih terbentang”. Harapan kami, semua anggota wisma ini bisa untuk terus melanjutkan perjuangan da’wah islam kedepan.
MASTAMA, yaitu akronim dari Masa Taaruf Alamanda, ini merupakan ajang taaruf bagi anggota baru dan ajang silaturrahim antara sesama anggota Wisma Alamanda Satu, Dua dan Tiga. Rangkaian acara ini dimulai dari taaruf anggota baru dengan anggota lama, berupa pengumpulan biodata dan tanda tangan anggota wisma lama oleh anggota wisma baru, minimal sebanyak 60 orang dalam waktu 1 bulan. Acara ini merupakan sejarah baru dalam sejarah perjalanan Wisma Alamanda ke depan.
Rangkaian acara puncak MASTAMA diawali dengan penyampaian materi kewismaan oleh Ustadzah Desi Asriani. Pemateri merupakan tim trainer LPPM-SB. Sebelum materi dimulai terlebih dahulu diadakan stimulasi yang intinya memaparkan tentang masalah-masalah atau kendala-kendala yang ditemukan selama tinggal di wisma. Masing-masing anggota wisma diminta untuk menuliskan sebanyak 3 masalah yang ditemukan dalam wisma. Dari tulisan yang dipaparkan ternyata banyak yang mengeluhkan permasalahan akhlak yang kurang baik, ibadah yang menurun dan ukhuwah yang hanya dibibir saja. Astaghfirullah, benarkah di wisma ini terjadi penurunan kwalitas ? Lalu bagaimana dengan visi wisma “Mewujudkan kepribadian muslimah yang islami" ? Masih adakah itu ? Bangkitlah wismaku harapan itu masih ada, Berjuanglah akhwatku jalan itu masih terbentang, Allahuakbar !!!
Acara selanjutnya break sholat Magrib berjamaah, makan malam bersama dan sholat Isya berjamaah. Acara dilanjutkan ba’da Isya, pementasan kreatifitas angota baru, berupa nasyid dan drama, yang dinilai oleh Juri dari Alumni Alamanda. Untuk pementasan kreativitas anggota baru dibagi dalam empat kelompok, yaitu kelompok Wahidah, PKS (Pa Kabar Sobat), Wonder Woman dan terakhir kelompok Mujahidah.
Tak disangka ternyata pementasan kreatifitas anggota baru wisma sangat menghibur dan begitu kreatif. Seperti kelompok Wahidah yang mementaskan drama tentang “problematika wisma”. Mengisahkan proses penyesuaian diri anggota baru selama tinggal dilingkungan wisma yang memiliki peraturan super ketat, yakni peraturan mengenai larangan pacaran, larangan memakai dan menonton TV di lingkungan wisma, menerima telfon, hp dan sms dari non-muhrim yang dibatasai dari pukul 05:30-21:00, dll.
Bentuk kreatifitas akhwat yang lain, yaitu pementasan randai—kesenian tradisional Minangkabau yang dipadu dengan drama. Serta adanya nasyid rubahan lirik Teman Sejati-Brothers:
Salamo iko kami cari-cari
Rumah nan sarugo
Batingkek tigo murah bayianyo
Ba sobok kini Alamanda Tigo
Rancak rumahnyo
Ramah akhwatnyo
Iyo hati sanang…
Ibadah tanang…
Oh…sabana manang…
Alhamdulillah...
Pementasan kreatifitas anggota baru wisma berakhir pada pukul 22:00. Sebelum acara ditutup ada request dari anggota baru, yaitu penampilan kreatifitas dari anggota lama. Menanggapi permintaan ini, anggota lama hanya menampilkan nasyid dan puisi dadakan, yaitu nasyid Untukmu Teman-Brothers, Doa Perpisahan-Brothers, Indahnya Ukhuwah & Harapan-Andalusia serta Ukhuwah-Suara Persaudaraan. Rangkaian acara puncak MASTAMA selesai pukul 22:30, masih ada satu rangkaian acara terakhir yaitu Rihlah Gabungan Alamanda yang akan dilaksanakan pada 26 Maret 2009. Dalam rihlah gabungan ini akan diumumkan pemenangan lomba pementasan kreatifitas dan pengukuhan Mujahidah Alamanda Periode 89.
Kamis, Maret 19, 2009
Pengalaman: Melihat Upacara Pernikahan di Air Bangis
Pukul 04.10 dini hari tadi saya sampai Padang, setelah 4 hari berada di Air Bangis menghadiri undangan pernikahan adik teman. Berangkat ke Air Bangis hari Minggu malam pukul 20.15 selepas training NLP Personality Plus. Untuk pertama kali saya berani melakukan perjalanan malam sendiri tanpa teman, ada perasaan cemas, takut dan khawatir. Walaupun sudah pernah ke Air Bangis sebulan yang lalu dengan teman-teman di Alamanda tapi tetap saja dihantui oleh perasaan cemas, takut dan khawatir. Saya bertekat menguatkan keberanian untuk berangkat sendiri, demi menjalin silaturrahim, mengikat ukhuwah karena Allah, serta mengamati proses adat dan budaya setempat. Alhamdulillah perjalanan menuju Air Bangis lancar dan nyaman, karena saya duduk didepan sebelah sopir, yang seharusnya diisi oleh tiga orang tapi saya menempati tempat duduk sendiri. Sampai tujuan pukul 02 25 dini hari.
Melihat upacara pernikahan dengan berbagai macam tata cara adat setempat yang ditambah dengan tata cara modern ini merupakan pengalaman yang sangat menarik. Sayang saya tak sempat menyaksikan upacara pernikahan dari awal, karena masih dalam perjalanan. Seperti pelaksanaan ritual malam-malam ba inai bagi anak daro atau mempelai perempuan dan upacara basiram bagi marapulai. Sebelum ijab kabul, anak daro dan marapulai meminta maaf dan restu terlebih dahulu kepada kedua orang tua serta keluarga. Selanjutnya ijab kabul dilaksanakan dirumah anak daro, untuk melaksanakan ijab kabul, marapulai diarak kerumah anak daro dengan pengiring yang membawa anak pohon pisang dan tebu. Uniknya, ijab kabul dilaksanakan pada malam hari sekitar pukul 23.00 dan selesai pada pukul 02.00 dini hari. Setelah itu marapulai di arak kembali ke rumah diiringi oleh musik talempong dan dendang. Saat saya sampai, saya sempat menyaksikan talempong dan dendang yang dimainkan sampai pukul 03.30 dini hari.
Hari Senin, diadakan pesta pernikahan dan upacara tagak gala dirumah marapulai. Saya melihat dalam pesta pernikahan ini, ada terjadi akulturasi dan asimilasi budaya. Seperti pembagian tempat makan berdasarkan tamu yang hadir. ada tamu yang diundang dengan surat undangan dan tamu yang diundang secara lisan. Tamu yang diundang dengan surat undangan, biasanya merupakan kerabat jauh atau teman-teman kerja, tempat makannya memakai tenda, meja dan kursi yang dihidang prasmanan mulai pukul 11 pagi sampai pukul 03 sore. Tamu yang diundang secara lisan, merupakan kerabat dekat, tempat makan didalam rumah yang dihidang secara tradisional memakai seprah—kain putih, untuk jadwalnya dibagi berdasarkan jenis kelamin, untuk yang perempuan atau disebut Si Pangka dari pukul 10 pagi sampai pukul 01 siang, dan yang laki-laki ini merupakan kalangan Ninik-Mamak dari pukul 01 siang sampai pukul 03.30 sore. Upacara tagak gala dilaksanakan saat Ninik-mamak hadir ke rumah marapulai.
Juga terlihat pembauran antara adat Minang dengan adat Melayu dan Cina, yang bisa dilihat melalu hiasan pelaminan dan pernak pernik pesta pernikahan.
Keterangan:
Malam-malam ba inai: acara pemakaian inai atau pewarna kuku yang terbuat dari daun pacar
Anak daro : mempelai perempuan
Marapulai : mempelai laki-laki
Tagak gala : Pemberian gelar untuk mempelai laki-laki, seperti gelar Sutan, Bagindo, Sidi, dll gelar ini menandai bahwa dia sudah menikah dan dipakai dalam upacara adat.
Melihat upacara pernikahan dengan berbagai macam tata cara adat setempat yang ditambah dengan tata cara modern ini merupakan pengalaman yang sangat menarik. Sayang saya tak sempat menyaksikan upacara pernikahan dari awal, karena masih dalam perjalanan. Seperti pelaksanaan ritual malam-malam ba inai bagi anak daro atau mempelai perempuan dan upacara basiram bagi marapulai. Sebelum ijab kabul, anak daro dan marapulai meminta maaf dan restu terlebih dahulu kepada kedua orang tua serta keluarga. Selanjutnya ijab kabul dilaksanakan dirumah anak daro, untuk melaksanakan ijab kabul, marapulai diarak kerumah anak daro dengan pengiring yang membawa anak pohon pisang dan tebu. Uniknya, ijab kabul dilaksanakan pada malam hari sekitar pukul 23.00 dan selesai pada pukul 02.00 dini hari. Setelah itu marapulai di arak kembali ke rumah diiringi oleh musik talempong dan dendang. Saat saya sampai, saya sempat menyaksikan talempong dan dendang yang dimainkan sampai pukul 03.30 dini hari.
Hari Senin, diadakan pesta pernikahan dan upacara tagak gala dirumah marapulai. Saya melihat dalam pesta pernikahan ini, ada terjadi akulturasi dan asimilasi budaya. Seperti pembagian tempat makan berdasarkan tamu yang hadir. ada tamu yang diundang dengan surat undangan dan tamu yang diundang secara lisan. Tamu yang diundang dengan surat undangan, biasanya merupakan kerabat jauh atau teman-teman kerja, tempat makannya memakai tenda, meja dan kursi yang dihidang prasmanan mulai pukul 11 pagi sampai pukul 03 sore. Tamu yang diundang secara lisan, merupakan kerabat dekat, tempat makan didalam rumah yang dihidang secara tradisional memakai seprah—kain putih, untuk jadwalnya dibagi berdasarkan jenis kelamin, untuk yang perempuan atau disebut Si Pangka dari pukul 10 pagi sampai pukul 01 siang, dan yang laki-laki ini merupakan kalangan Ninik-Mamak dari pukul 01 siang sampai pukul 03.30 sore. Upacara tagak gala dilaksanakan saat Ninik-mamak hadir ke rumah marapulai.
Juga terlihat pembauran antara adat Minang dengan adat Melayu dan Cina, yang bisa dilihat melalu hiasan pelaminan dan pernak pernik pesta pernikahan.
Keterangan:
Malam-malam ba inai: acara pemakaian inai atau pewarna kuku yang terbuat dari daun pacar
Anak daro : mempelai perempuan
Marapulai : mempelai laki-laki
Tagak gala : Pemberian gelar untuk mempelai laki-laki, seperti gelar Sutan, Bagindo, Sidi, dll gelar ini menandai bahwa dia sudah menikah dan dipakai dalam upacara adat.
Kamis, Maret 12, 2009
Lukisan alam Mu nan megah... iringi daku tuk sujud bermuhasabah...
Robb, aku takjub dengan lukisan alam Mu nan megah. Pagi ini aku sedang menikmati indahnya mentari pagi dibalkon. Maha Suci Engkau ya Robb, yang telah mengatur alam semesta ini tanpa merasa kesusahan..
Duhai Robb, betapa halusnya Engkau mengatur jagad raya ini, sehingga mataku tidak bisa menangkap perubahan bentuk awan di angkasa. Robb, aku adalah hamba Mu yang lemah lagi faqir, ilmu yang aku miliki tidak lah sebanding dengan ilmu Mu yang Maha Luas. Aku kerdil di hadapan Mu, salah satu bukti kekerdilan ku yaitu ketika langit Mu berubah, mataku tidak bisa jeli untuk menangkap perubahan itu. Dari ba'da subuh aku berdiri di balkon ini, memandang langit yang semula kelam, kemudian muncul cahaya remang-remang dan sekarang telah menjadi terang-benderang.
Terima kasih ya Allah...Engkau telah memberi aku kesempatan untuk menyaksikan lukisan alam Mu nan megah, yang mengiringi daku tuk sujud bermuhasabah...
Aku menyadari tidak semua hamba Mu yang ada di bumi ini punya kesempatan yang sama dengan aku, bisa menikmati lukisan alam Mu. Ada di antara hamba Mu yang hidup didunia ini yang ditakdirkan tak bisa melihat...karena ini Robb, ilhamkanlah kepada ku untuk senantiasa bersyukur pada Mu atas nikmat yang telah Engkau curahkan kepada ku. Sebagai mana Engkau mengilhamkan rasa syukur kepada Sulaiman As dan hamba-hamba Mu yang sholeh yang telah mendahului aku. Robb, masukanlah aku ke dalam golongan hamba Mu yang sholeh...
Duhai Robb, betapa halusnya Engkau mengatur jagad raya ini, sehingga mataku tidak bisa menangkap perubahan bentuk awan di angkasa. Robb, aku adalah hamba Mu yang lemah lagi faqir, ilmu yang aku miliki tidak lah sebanding dengan ilmu Mu yang Maha Luas. Aku kerdil di hadapan Mu, salah satu bukti kekerdilan ku yaitu ketika langit Mu berubah, mataku tidak bisa jeli untuk menangkap perubahan itu. Dari ba'da subuh aku berdiri di balkon ini, memandang langit yang semula kelam, kemudian muncul cahaya remang-remang dan sekarang telah menjadi terang-benderang.
Terima kasih ya Allah...Engkau telah memberi aku kesempatan untuk menyaksikan lukisan alam Mu nan megah, yang mengiringi daku tuk sujud bermuhasabah...
Aku menyadari tidak semua hamba Mu yang ada di bumi ini punya kesempatan yang sama dengan aku, bisa menikmati lukisan alam Mu. Ada di antara hamba Mu yang hidup didunia ini yang ditakdirkan tak bisa melihat...karena ini Robb, ilhamkanlah kepada ku untuk senantiasa bersyukur pada Mu atas nikmat yang telah Engkau curahkan kepada ku. Sebagai mana Engkau mengilhamkan rasa syukur kepada Sulaiman As dan hamba-hamba Mu yang sholeh yang telah mendahului aku. Robb, masukanlah aku ke dalam golongan hamba Mu yang sholeh...
Senin, Maret 09, 2009
M Sjafe'i, Pendiri INS Kayutanam
Tulisan ini akan membahas tentang pemikiran M. Sjafe’i tentang pendidikan, berdasarkan dua pertanyaan dasar.
1. Bagaimana Latar Belakang Pemikiran M.Sjafe’i
Berbicara tentang M. Sjafe’i tidak akan bisa lepas dari Ruang Pendidik INS Kayutanam. Ruang Pendidik INS (pada awal berdiri Indonesisch Nederlansche School, sekarang Institut Nasional Sjafe’i) didirikan oleh Engku M. Sjafe’i pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayutanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat. M. Sjafe’i mendirikan RP INS Kayutanam setelah beliau kembali dari studi di negeri Belanda.
M. Sjafe’i seorang anak angkat Marah Sutan dengan Andung Chalidjah di Kalimantan Barat tepatnya di daerah Natan. Ia menamatkan Sekolah Rakyat tahun 1908, masuk sekolah Raja (Sekolah Guru) lulus pada tahun 1914 dan kemudian mengikuti kursus guru gambar pada Bataviashe Kunstkring di Betawi, disamping itu ia juga mempelajari beberapa macam pekerjaan tangan pada tukang-tukang Indonesia di Betawi dan Bogor seperti kepandaian mengerjakan tulang, tanduk, bambu dan lain-lain.
Karena berpendapat untuk memajukan Indonesia dengan cepat kaum ibu adalah salah satu tenaga penting bagi usaha pekerjaan tangan. Setibanya di Jakarta dari Bukit Tinggi dia lalu mengajar pada sekolah Kartini di pintu Besi Gunung Sahari, Jakarta dengan Murid pada awalnnya hanya 36 orang wanita. Pada waktu itu anak-anak perempuan belum dibiasakan untuk meninggalkan rumah karena masih dalam pingitan.
Dia menjadi guru pada sekolah Kartini selama 6 tahun dan muridnya meningkat pesat menjadi 800 orang lebih ketika ditinggalkannya pada tahun 1927. Selama mengajar di sekolah kartini beliau juga diizinkan untuk mengerjakan pekerjaan tangan secara Fakultatif dan juga dia bekerja pada surat kabar harian yang diterbitkan oleh bapak angkatnya Marah Sutan dan majalah migguan untuk pembaca dewasa dan majalah anak-anak sekolah rakyat pemerintahan Hindia Belanda dan sekolah–sekolah swasta. Disela-sela kesibukannya menyempatkan diri untuk belajar menggambar. Pada tahun 1916 dia mengikuti ujian Negara untuk menjadi guru gambar pada sekolah lanjutan tingkat pertama dan lulus dengan hasil yang memuaskan.Beliau adalah anak Indonesia yang pertama yang mendapatkan Ijazah tersebut, bahkan saat menyerahkan hasil ujian Juru bicara penguji berkata :”Hasil pekerjaan beliau sangat baik seandainya tuan adalah orang Belanda tuan akan mendapatkan nilai 9 atau 10 tetapi Karena tuan bangsa pribumi kami berikan nilai 8 untuk tuan.
Beliau juga aktif dalam gerakan politik semenjak tamat sekolah di Bukit Tinggi bahkan aktif dalam Budi Utomo, membantu Wanita Putri Merdeka serta menjadi anggota partai Insulide pada tahun 1915 yang kemudian berubah menjadi Indische Partij. Dibawah pimpinan Tiga Serangkai beliau memajukan usul pada Pemerintah Hindia Belanda supaya memudahkan Bahasa Belanda bagi anak-anak Indonesia. Dalam tahun itu juga beliau mengajukan Mosi meminta pemerintah Hindia Belanda untuk membuat Parlemen bagi Indonesia. Dalam tahun 1917 pada kongres Insulide di Semarang beliau juga mengajukan usul pemerintahan Hindia Belanda untuk menukar “Punale Sanctie” (sistem kontrak terhadap kuli perkebunan Belanda) dengan perjanjian buruh merdeka namun tidak digubris oleh pemerintah Hindia Belanda.
Beliau juga turut aktif dalam gerakan Dr. A.G. Niewenhuis seorang ahli pendidikan dan bahasa untuk mengajar bahasa pada anak-anak usia 10 tahun ke atas. Dengan demikian bahasa asing dipelajari terlebih dahulu sebelum bahasa asing menjadi sendi yang kuat untuk mempelajari bahasa asing. Hal ini disebabkan karena anak-anak yang berumur 6 tahun pada sekolah HIS diajarkan bahasa Belanda yang membuat anak-anak zaman itu sangat terbebani. Gerakan itu berhasil dengan dibentuknya sekolah Schakel yang setaraf dengan HIS tapi muridnya adalah tamatan sekolah kelas 3 sekolah Bumiputra atau rakyat.
Sesudah aktif dalam berbagai bidang tersebut di Indoesia selama lebih dari 10 tahun. Dia mencoba memberi tinjauan terhadap berbagai hal tentang keadaan di Indonesia. Dia ingin menambah tinjauannya tersebut dengan sudut pandang dari luar negeri khususnya dari Balanda karena tinjauan tersebut nantinya akan membawa manfaat bagi pendidikan Indonsia juga.
M. Sjafe’i pada tanggal 31 Mei 1922 berangkat ke negeri Belanda menempuh pendidikan atas biaya sendiri. Belajar selama 3 tahun dengan memperdalam ilmu musik, menggambar, pekerjaan tangan, sandiwara termasuk memperdalam pendidikan dan keguruan. Di Belanda, dia melakuakan tinjauan ke berbagai bidang seperti Ilmu dan tinjauan masyarakat sehingga dia tidak mengikuti pelajaran kelas seperti biasa tetapi lebih banyak mendapatkan pelajaran istimewa atau Privaat-oderwijs. Dibidang pendidikan dia mendapati bahwa sekolah-sekolah swasta lebih baik dari pada sekolah pemerintah terutama pada pendidikan dasar dan menengah
Pada tahun 1925 kembali ke Indonesia untuk mengabdikan ilmu pengetahuannya pada sekolah Kartini Jakarta dan perguruan lain serta diangkat menjadi Ajunct Inspektur oleh pemerintah Hindia Belanda tetapi dia menolaknya karena ingin membuat sekolah dengan sistem sendiri. Setelah melakukan tinjauan di Indonesia dan diluar negeri maka bersama Ayahnya Marah Sutan menyusun suatu program berdasarkan beberapa pertanyaan.”Bagaimana Hendaknya bentuk pendidikan bangsa Indonesia berdasarkan keadaan yang ada dari berbagai aspek”. Sesudah itu muncullah garis arah yang penting untuk pegangan dalam melakukan pekerjaan pendidikan seperti berikut:
• Berusaha mencapai Indonesia Mulia Sempurna
• Pendidikan Umum dan Kejuruaan sedapat mungkin disatukan
• Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, Bahasa Belanda sekedar mengerti, bahasa Inggris aktif
• Kebudayaan nasional sangat dipentingkan
• Bakat dikembangkan
• Pusat pemikiran diutamakan
• Percaya dan berusaha atas tenaga sendiri
• Rasa Kekeluargaan yang mendalam.
• Biasa pada hidup sederhana
• Contoh sebagai media pendidikan
• Sebanyak mungkin pekerjaan diberikan pada pelajar sehingga mereka tidak hanya sebagai objek tetapi juga subjek
• Menjadi manusia susila, bertubuh kuat dan sehat cerdas logis serta ulet dan gigih
• Mempunyai rasa tanggung jawab terhadap keselamatan Nusa bangsa Indoesia serta berprikemanusiaan.
• Menjadi manusia kreatif aktif dan kreatif imitative dan emosional yang sehat
• Usaha-usaha didasarkan atas koperasi
• Bersegikan pengetahuaan umum yang sederajat dengan MULO atau SMP diberikan pengetahuaan Umum
• Tiga cara pengajaran dipergunakan: auditif, visual, motorik-taktil
• 50% untuk mengembangkan ilmu biasa dan 50% untuk perkembangan bakat, kejuruaan dan latihan untuk menjadi subjek
• Pelajar dibiasakan dalam dua macam keadaan, dalam keadaan serba kurang dan kecukupan
2. Bagamana Dasar Pemikiran Pendidikan M. Sjafe’i
Dasar pendidikan susunan M Sjafe’i yang dianut dan diterapkan di perguruan ini didasarkan pada falsafah yang tersimpul dalam ungkapan Minang:
- Alam terkembang jadi guru (belajarlah dari alam dan pelajarilah alam itu)
dan ucapan beliau,
- Janganlah meminta buah mangga dari pohon rambutan, tetapi jadikanlah setiap pohon berbuah manis! (setiap insan memiliki talenta berbeda)
- Jadilah engkau menjadi engkau!
Oleh karena itu, dasar pendidikan di INS Kayutanam ini adalah pengembangan potensi peserta didik dengan mendorong perkembangan bakat (talenta) yang dimiliki masing-masing dengan memberikan penguasaan ilmu pengetahuan, menumbuhkan kepribadian yang mandiri dan kreatif serta didukung oleh tumbuhnya nilai-nilai luhur yang disimpulkan sebagai akhlak mulia.
Dasar pendidikan yang dikembangkannya adalah kemasyarakatan, keaktifan, kepraktisan, serta berfikir logis dan rasional. Berkenaan dengan itulah maka isi pendidikan yang dikembangkannya adalah bahan-bahan yang dapat mengembangkan pikiran, perasaan dan keteampilan atau yang dikenal dengan istilah 3H, yaitu Head, Heart dan Hand.
DAFTAR PUSTAKA
Navis,A.A, Filsafat dan Strategi Pendidikan M.Sjafei: Ruang Pendidikan INS Kayutanam, Jakarta: Grasindo,1996
Yusra, Abrar. Otobografi A. A. Navis: Satiris & Suara Kritis Dari Daerah, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1994
1. Bagaimana Latar Belakang Pemikiran M.Sjafe’i
Berbicara tentang M. Sjafe’i tidak akan bisa lepas dari Ruang Pendidik INS Kayutanam. Ruang Pendidik INS (pada awal berdiri Indonesisch Nederlansche School, sekarang Institut Nasional Sjafe’i) didirikan oleh Engku M. Sjafe’i pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayutanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat. M. Sjafe’i mendirikan RP INS Kayutanam setelah beliau kembali dari studi di negeri Belanda.
M. Sjafe’i seorang anak angkat Marah Sutan dengan Andung Chalidjah di Kalimantan Barat tepatnya di daerah Natan. Ia menamatkan Sekolah Rakyat tahun 1908, masuk sekolah Raja (Sekolah Guru) lulus pada tahun 1914 dan kemudian mengikuti kursus guru gambar pada Bataviashe Kunstkring di Betawi, disamping itu ia juga mempelajari beberapa macam pekerjaan tangan pada tukang-tukang Indonesia di Betawi dan Bogor seperti kepandaian mengerjakan tulang, tanduk, bambu dan lain-lain.
Karena berpendapat untuk memajukan Indonesia dengan cepat kaum ibu adalah salah satu tenaga penting bagi usaha pekerjaan tangan. Setibanya di Jakarta dari Bukit Tinggi dia lalu mengajar pada sekolah Kartini di pintu Besi Gunung Sahari, Jakarta dengan Murid pada awalnnya hanya 36 orang wanita. Pada waktu itu anak-anak perempuan belum dibiasakan untuk meninggalkan rumah karena masih dalam pingitan.
Dia menjadi guru pada sekolah Kartini selama 6 tahun dan muridnya meningkat pesat menjadi 800 orang lebih ketika ditinggalkannya pada tahun 1927. Selama mengajar di sekolah kartini beliau juga diizinkan untuk mengerjakan pekerjaan tangan secara Fakultatif dan juga dia bekerja pada surat kabar harian yang diterbitkan oleh bapak angkatnya Marah Sutan dan majalah migguan untuk pembaca dewasa dan majalah anak-anak sekolah rakyat pemerintahan Hindia Belanda dan sekolah–sekolah swasta. Disela-sela kesibukannya menyempatkan diri untuk belajar menggambar. Pada tahun 1916 dia mengikuti ujian Negara untuk menjadi guru gambar pada sekolah lanjutan tingkat pertama dan lulus dengan hasil yang memuaskan.Beliau adalah anak Indonesia yang pertama yang mendapatkan Ijazah tersebut, bahkan saat menyerahkan hasil ujian Juru bicara penguji berkata :”Hasil pekerjaan beliau sangat baik seandainya tuan adalah orang Belanda tuan akan mendapatkan nilai 9 atau 10 tetapi Karena tuan bangsa pribumi kami berikan nilai 8 untuk tuan.
Beliau juga aktif dalam gerakan politik semenjak tamat sekolah di Bukit Tinggi bahkan aktif dalam Budi Utomo, membantu Wanita Putri Merdeka serta menjadi anggota partai Insulide pada tahun 1915 yang kemudian berubah menjadi Indische Partij. Dibawah pimpinan Tiga Serangkai beliau memajukan usul pada Pemerintah Hindia Belanda supaya memudahkan Bahasa Belanda bagi anak-anak Indonesia. Dalam tahun itu juga beliau mengajukan Mosi meminta pemerintah Hindia Belanda untuk membuat Parlemen bagi Indonesia. Dalam tahun 1917 pada kongres Insulide di Semarang beliau juga mengajukan usul pemerintahan Hindia Belanda untuk menukar “Punale Sanctie” (sistem kontrak terhadap kuli perkebunan Belanda) dengan perjanjian buruh merdeka namun tidak digubris oleh pemerintah Hindia Belanda.
Beliau juga turut aktif dalam gerakan Dr. A.G. Niewenhuis seorang ahli pendidikan dan bahasa untuk mengajar bahasa pada anak-anak usia 10 tahun ke atas. Dengan demikian bahasa asing dipelajari terlebih dahulu sebelum bahasa asing menjadi sendi yang kuat untuk mempelajari bahasa asing. Hal ini disebabkan karena anak-anak yang berumur 6 tahun pada sekolah HIS diajarkan bahasa Belanda yang membuat anak-anak zaman itu sangat terbebani. Gerakan itu berhasil dengan dibentuknya sekolah Schakel yang setaraf dengan HIS tapi muridnya adalah tamatan sekolah kelas 3 sekolah Bumiputra atau rakyat.
Sesudah aktif dalam berbagai bidang tersebut di Indoesia selama lebih dari 10 tahun. Dia mencoba memberi tinjauan terhadap berbagai hal tentang keadaan di Indonesia. Dia ingin menambah tinjauannya tersebut dengan sudut pandang dari luar negeri khususnya dari Balanda karena tinjauan tersebut nantinya akan membawa manfaat bagi pendidikan Indonsia juga.
M. Sjafe’i pada tanggal 31 Mei 1922 berangkat ke negeri Belanda menempuh pendidikan atas biaya sendiri. Belajar selama 3 tahun dengan memperdalam ilmu musik, menggambar, pekerjaan tangan, sandiwara termasuk memperdalam pendidikan dan keguruan. Di Belanda, dia melakuakan tinjauan ke berbagai bidang seperti Ilmu dan tinjauan masyarakat sehingga dia tidak mengikuti pelajaran kelas seperti biasa tetapi lebih banyak mendapatkan pelajaran istimewa atau Privaat-oderwijs. Dibidang pendidikan dia mendapati bahwa sekolah-sekolah swasta lebih baik dari pada sekolah pemerintah terutama pada pendidikan dasar dan menengah
Pada tahun 1925 kembali ke Indonesia untuk mengabdikan ilmu pengetahuannya pada sekolah Kartini Jakarta dan perguruan lain serta diangkat menjadi Ajunct Inspektur oleh pemerintah Hindia Belanda tetapi dia menolaknya karena ingin membuat sekolah dengan sistem sendiri. Setelah melakukan tinjauan di Indonesia dan diluar negeri maka bersama Ayahnya Marah Sutan menyusun suatu program berdasarkan beberapa pertanyaan.”Bagaimana Hendaknya bentuk pendidikan bangsa Indonesia berdasarkan keadaan yang ada dari berbagai aspek”. Sesudah itu muncullah garis arah yang penting untuk pegangan dalam melakukan pekerjaan pendidikan seperti berikut:
• Berusaha mencapai Indonesia Mulia Sempurna
• Pendidikan Umum dan Kejuruaan sedapat mungkin disatukan
• Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, Bahasa Belanda sekedar mengerti, bahasa Inggris aktif
• Kebudayaan nasional sangat dipentingkan
• Bakat dikembangkan
• Pusat pemikiran diutamakan
• Percaya dan berusaha atas tenaga sendiri
• Rasa Kekeluargaan yang mendalam.
• Biasa pada hidup sederhana
• Contoh sebagai media pendidikan
• Sebanyak mungkin pekerjaan diberikan pada pelajar sehingga mereka tidak hanya sebagai objek tetapi juga subjek
• Menjadi manusia susila, bertubuh kuat dan sehat cerdas logis serta ulet dan gigih
• Mempunyai rasa tanggung jawab terhadap keselamatan Nusa bangsa Indoesia serta berprikemanusiaan.
• Menjadi manusia kreatif aktif dan kreatif imitative dan emosional yang sehat
• Usaha-usaha didasarkan atas koperasi
• Bersegikan pengetahuaan umum yang sederajat dengan MULO atau SMP diberikan pengetahuaan Umum
• Tiga cara pengajaran dipergunakan: auditif, visual, motorik-taktil
• 50% untuk mengembangkan ilmu biasa dan 50% untuk perkembangan bakat, kejuruaan dan latihan untuk menjadi subjek
• Pelajar dibiasakan dalam dua macam keadaan, dalam keadaan serba kurang dan kecukupan
2. Bagamana Dasar Pemikiran Pendidikan M. Sjafe’i
Dasar pendidikan susunan M Sjafe’i yang dianut dan diterapkan di perguruan ini didasarkan pada falsafah yang tersimpul dalam ungkapan Minang:
- Alam terkembang jadi guru (belajarlah dari alam dan pelajarilah alam itu)
dan ucapan beliau,
- Janganlah meminta buah mangga dari pohon rambutan, tetapi jadikanlah setiap pohon berbuah manis! (setiap insan memiliki talenta berbeda)
- Jadilah engkau menjadi engkau!
Oleh karena itu, dasar pendidikan di INS Kayutanam ini adalah pengembangan potensi peserta didik dengan mendorong perkembangan bakat (talenta) yang dimiliki masing-masing dengan memberikan penguasaan ilmu pengetahuan, menumbuhkan kepribadian yang mandiri dan kreatif serta didukung oleh tumbuhnya nilai-nilai luhur yang disimpulkan sebagai akhlak mulia.
Dasar pendidikan yang dikembangkannya adalah kemasyarakatan, keaktifan, kepraktisan, serta berfikir logis dan rasional. Berkenaan dengan itulah maka isi pendidikan yang dikembangkannya adalah bahan-bahan yang dapat mengembangkan pikiran, perasaan dan keteampilan atau yang dikenal dengan istilah 3H, yaitu Head, Heart dan Hand.
DAFTAR PUSTAKA
Navis,A.A, Filsafat dan Strategi Pendidikan M.Sjafei: Ruang Pendidikan INS Kayutanam, Jakarta: Grasindo,1996
Yusra, Abrar. Otobografi A. A. Navis: Satiris & Suara Kritis Dari Daerah, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1994
Jumat, Februari 20, 2009
Air Bangis, kota yang memiliki segudang sejarah
Beberapa hari yang lalu saya pergi liburan sekalian silaturrahim ke rumah teman di Air Bangis-Pasaman Barat. Perjalanan kesana cukup melelahkan, tapi akan terobati dengan pesona pantai, kebun-kebun sawit, karet dan kelapa. Jarak antar Padang-Air Bangis kira-kira 250 km, jika memakai bus umum (AKDP) lama perjalanan berkisar antara 5-6 jam. Untuk kondisi jalan menuju Air Bangis tak semulus jalan ke Solok. Jalannya banyak yang rusak dan sempit, sedangkan yang memakai jalan kebanyakan kendaraan truk dan fuso yang muatannya sawit, kopra, kayu serta ikan kering.
Bagi saya ini pengalaman pertama liburan ke Air Bangis. Liburan yang menyenangkan. Air Bangis merupakan kota tua yang memiliki segudang sejarah. Saat membaca beberapa buku sejarah Minangkabau saya menemukan literature tentang pelabuhan Air Bangis tempo dulu yang ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Mancanegara. Selain itu pelabuhan Air Bangis merupakan saksi atas penyebaran agama Islam ke Sumatera Barat. Pada masa Kolonial Belanda pelabuhan Air Bangis juga merupakan salah satu pelabuhan penting di wilayah Minangkabau. Andai saja aku berkesempatan libur lama disana tentu akan aku gali informasi lisan tentang sejarah Air Bangis ini.
Disamping pelabuhan Air Bangis juga memiliki pulau-pulau serta pantai yang indah. Jumlah pulau ada sekitar 9 pulau dengan pantai yang masih asri, pulau yang terkenal antara lain yaitu pulau Panjang dan pulau Pigago. Pulau-pulau ini ada yang berpenduduk dan ada yang tidak berpenduduk serta ada yang dijadikan sebagai tempat perkebunan kelapa.
Disana, kita juga bisa menyisiri Sungai Beremas dengan sampan atau perahu motor. Menurut keterangan penduduk setempat, di sungai ini ada “pusa-pusa” yaitu air sungai yang berputar-putar membentuk lingkaran yang bisa menarik setiap benda yang lewat dipermukaan air, mirip dengan pasir hisap. Jika sampan atau perahu motor lewat dipermukaan bisa tenggelam. Ada mitos yang beredar dikalangan masyarakat tentang pusa-pusa; setiap keturunan raja-raja Air Bangis ini tidak bisa pergi berlayar baik itu di sungai maupun di laut Air Bangis. Konon kabarnya kapal raja beserta Raja Air Bangis pernah tenggelam di perairan Air Bangis sehingga arwahnya gentayangan dan mencari anak keturunan raja.
Penduduk Air Bangis memiliki beraneka ragam mata pencaharian. Seperti nelayan, petani kopra, sawit, peternak walet, dll.
Selain tempat-tempat wisata kita juga bisa menikmati makanan khas Air Bangis. Seperti gulai ikan hiu yang dimakan dengan ketupat nasi atau ketupat bakarak serta menu dari seafood seperti udang dan kepiting, sate tulang ayam, mi lidi, dan makanan tradisional yang hanya ada dijual pada hari pasar, seperti kue pandan (kue yang terbuat dari beras ketan yang dibungkus dengan daun pandan berbentuk segitiga). Jangan kaget bagi yang tidak suka pedas, karena hampir semua masakan Air Bangis dimasak memakai cabe rawit. Orang Air Bangis terbiasa memasak dengan cabe rawit. Mungkin saja ini merupakan salah satu cara untuk menghilangkan bau amis dari seafood.
Rabu, Februari 11, 2009
WATER THERAPY
Tahukah kita, bahwa lebih dari 70% tubuh kita isinya air? Air yang bergerak dalam tubuh kita tak ubahnya seperti air sungai yang mengalir terus menerus.
Air yang ada dalam tubuh kita berfungsi sebagai pengagkut makanan yang akan dibentuk menjadi sel-sel hidup yang diperlukan seluruh tubuh. fungsi air lainnya adalah mengangkut sel-sel mati untuk dibawa ketempat pembuangan.
Bila aliran air kurang lancar didalam tubuh, salah satunya bisa karena kurangnya masukan cairan kedalam tubuh keseimbangan kerja organ-organ tubuh akan terganggu dan penumpukan toksin akan meningkat yang pada akhirnya memacu munculnya berbagai penyakit. Karenanya, kurang minum bisa memacu berbagai penyakit. banyak sekali dampak yang akan ditimbulkan bila tubuh kekurangan air. Berbagai penelitian banyak dilakukan dinegara-negara maju untuk melihat manfaat air yang luar biasa dalam mencegah dan mengobati berbagai penyakit ringan maupun berat.
Cara Minum Yang Baik Dan Benar
Kebanyakan dari kita tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk minum. Kebiasaan minum disaat makan atau setelah makan tidaklah baik karena makan yang kita kunyah didalam mulut sebenarnya bercampur dengan air liur (kelenjer ludah) yang memiliki kandungan "enzim amilase" yang salah satu fungsinya adalah memudahkan penghancuran makanan dalam proses pengunyahan dan membantu menyempurnakan pengolahan makanan didalam lambung. Demikian juga ketika makanan ditelan, ia akan bercampur dengan berbagai macam enzim dan gastric juice didalam lambung (gastic juice adalah cairan yang diproduksi oleh lambung) untuk menyempurnakan pengolahan makanan.
Jadi ketika minum saat makan atau langsung sesudah makan, air yang kita minum akan memisahkan makanan yang sudah bercampur dengan berbagai macam enzim tadi. Akibatnya, proses pengolahan makanana terganggu dan tidak sempurna. Apabila proses pengolahan makanan tidak sempurna, akibatnya nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh jadi tidak maksimal; pembuangan sisa olahan tubuh jadi tehambat, yang akhirnya akan berkembang pada banyak gejala penyakit yang muncul, seperti perut kembung dan konstipasi.
Kapan Sebaiknya Kita Minum ?
Waktu minum yang baik 2 jam sebelum makan, 2 sesudah makan dan 2 jam sebelum tidur. Jadi sebaiknya ketika kita makan atau sesudah makan, kita hanya boleh minum paling banyak setengah gelas air. Itupun biasakan dikumur-kumur dulu sebelum ditelan agar air tadi bercampur dengan enzim didalam mulut. Akan tetapi akan lebih baik lagi kalau kita melatih untuk membiasakan tidak minum saat makan dan membiasakan tidak minum saat makan.
Mengapa Minum Menjelang Tidur Tidak Baik?
Apabila kita membiasakan minum menjelang tidur, ini akan membuat istirahat ginjal terganggu. Banyaknya cairan yang masuk pada malam hari akan memaksa ginjal bekerja kala ia harus istirahat dari rutinitas kerja yang melelahkan pada siang hari. Bukan hanya itu, tidur kita pun akan terganggu dengan sringnya buang air kecil pada malam hari, padahal perbaikan jaringan sel yang rusak kebanyakan dilakukan oleh tubuh pada malam hari. Kualitas tidur yang baik sangat mempengaruhi kualitas kesehatan kita pada umumnya.
Dikutip dar: Dr Husen A. Bajry, M.D., Ph.d,(2008) Tubuh Anda adalah Dokter yang Terbaik. Bandung: PT Karya Kita
Air yang ada dalam tubuh kita berfungsi sebagai pengagkut makanan yang akan dibentuk menjadi sel-sel hidup yang diperlukan seluruh tubuh. fungsi air lainnya adalah mengangkut sel-sel mati untuk dibawa ketempat pembuangan.
Bila aliran air kurang lancar didalam tubuh, salah satunya bisa karena kurangnya masukan cairan kedalam tubuh keseimbangan kerja organ-organ tubuh akan terganggu dan penumpukan toksin akan meningkat yang pada akhirnya memacu munculnya berbagai penyakit. Karenanya, kurang minum bisa memacu berbagai penyakit. banyak sekali dampak yang akan ditimbulkan bila tubuh kekurangan air. Berbagai penelitian banyak dilakukan dinegara-negara maju untuk melihat manfaat air yang luar biasa dalam mencegah dan mengobati berbagai penyakit ringan maupun berat.
Cara Minum Yang Baik Dan Benar
Kebanyakan dari kita tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk minum. Kebiasaan minum disaat makan atau setelah makan tidaklah baik karena makan yang kita kunyah didalam mulut sebenarnya bercampur dengan air liur (kelenjer ludah) yang memiliki kandungan "enzim amilase" yang salah satu fungsinya adalah memudahkan penghancuran makanan dalam proses pengunyahan dan membantu menyempurnakan pengolahan makanan didalam lambung. Demikian juga ketika makanan ditelan, ia akan bercampur dengan berbagai macam enzim dan gastric juice didalam lambung (gastic juice adalah cairan yang diproduksi oleh lambung) untuk menyempurnakan pengolahan makanan.
Jadi ketika minum saat makan atau langsung sesudah makan, air yang kita minum akan memisahkan makanan yang sudah bercampur dengan berbagai macam enzim tadi. Akibatnya, proses pengolahan makanana terganggu dan tidak sempurna. Apabila proses pengolahan makanan tidak sempurna, akibatnya nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh jadi tidak maksimal; pembuangan sisa olahan tubuh jadi tehambat, yang akhirnya akan berkembang pada banyak gejala penyakit yang muncul, seperti perut kembung dan konstipasi.
Kapan Sebaiknya Kita Minum ?
Waktu minum yang baik 2 jam sebelum makan, 2 sesudah makan dan 2 jam sebelum tidur. Jadi sebaiknya ketika kita makan atau sesudah makan, kita hanya boleh minum paling banyak setengah gelas air. Itupun biasakan dikumur-kumur dulu sebelum ditelan agar air tadi bercampur dengan enzim didalam mulut. Akan tetapi akan lebih baik lagi kalau kita melatih untuk membiasakan tidak minum saat makan dan membiasakan tidak minum saat makan.
Mengapa Minum Menjelang Tidur Tidak Baik?
Apabila kita membiasakan minum menjelang tidur, ini akan membuat istirahat ginjal terganggu. Banyaknya cairan yang masuk pada malam hari akan memaksa ginjal bekerja kala ia harus istirahat dari rutinitas kerja yang melelahkan pada siang hari. Bukan hanya itu, tidur kita pun akan terganggu dengan sringnya buang air kecil pada malam hari, padahal perbaikan jaringan sel yang rusak kebanyakan dilakukan oleh tubuh pada malam hari. Kualitas tidur yang baik sangat mempengaruhi kualitas kesehatan kita pada umumnya.
Dikutip dar: Dr Husen A. Bajry, M.D., Ph.d,(2008) Tubuh Anda adalah Dokter yang Terbaik. Bandung: PT Karya Kita
Langganan:
Postingan (Atom)


