Datang kepadaku seorang pemuda dari Palestina. Ia duduk diatas tanah.
Aku berkata: “Duduklah diatas permadani...”
Ia menjawab: “Bagaimana aku bisa duduk diatas permadani, sementara Al-Quds tetawan ditangan manusia-manusia ‘kera’ dan ‘babi’.”
Aku berkata: “Adakah berita dari Al-Quds?”
Ia menjawab: “Aku membawa pertanyaan yang memerlukan jawaban.”
Aku berkata: “Pertanyaan apa itu?”
Ia menjawab: “Al-Quds memanggil dimana para pahlawannya? Dimana cucu Khalid, Saad dan Bilal? Wahai mereka yang telah hafal surat Al-Anfal, dimana para pahlawan perangmu?”
Aku berkata: “Mereka telah lama mati. Negeri-negeri telah lama kehilangan mereka. Mereka lalu digantikan orang-orang yang lemah semangat, tipis perhatian dan mimpi yang tak berbobot.”
Ia mengatakan: “ Kami juga menanyakan, kemana para pengusung Risalah? Dimana orang-orang pemberani? Dima orang-orang yang tak mau dihina karena mengerti harga dirinya? Mengapa anak cucu berbeda dengan ayah dan kakeknya?”
Aku berkata: “orang-orang yang tak rela dihina itu, rumahnya di masjid-masjid. Diantara orang-orang yang ruku dan sujud. Yang khusyu dan orang-orang ahli ibadah. Yang berpuasa dan berjihad. Sedangkan anak cucu mereka memiliki rumah dikafe-kafe. Di anata penyanyi dan pembuang waktu. Yang banga dengan uang. Yang terjerumus dalam kekosongan. Kecuali mereka yang dirahmati Tuhan.”
Lalu aku bertanya terburu-buru kepada pemuda itu: “Kirimkan salam kami untuk Al-Quds...Katakan padanya, kami menjadi tebusanmu wahai Al-Quds, dengan jiwa. Kapan engkau kembali kepada kami. Salam dari kami...”
Ia menjawab: (Al-Quds mengatakan:) “Jika kalian kembali kepada Allah, aku akan kembali kepada kalian. Tetapi jika kalian menjauh dari Allah, aku menjauh dari kalian.”
Aku berkata: “Kenapa umar bisa membebaskanmu?”
Ia menjawab: (Al-Quds mengatakan: ) “Karena dia pemegang sunnah, jujur dalam bicara, penegak keadilan dalam peri hidupnya.”
Aku berkata: “Lalu kenapa engkau bisa direbut kembali oleh Shalahuddin?”
Ia menjawab: (Al-Quds mengataka: ) “Karena dialah pahlawan perang Hithin. Dan dia dilindungi oleh Rabbul Alamin. Lalu dialah seorang abid dan golongan mujahidin.”
Aku berkata: “Wahai Al-Quds, mungkinkah kita bisa bertemu?”
Ia menjawab: (Al-Quds mengataka:) “Jika kalian taati Tuhan pemilik bumi dan langit. Kalian ikhlas dalam do’a. Kalian berlatih berjihad pagi dan sore. Dan kalian taubat dari seluruh kemaksiatan dan kekejian.”
Aku berkata: “Bagaiman kondisimu sekarang?”
Ia menjawab: (Al-Quds mengatakan:) “ Dalam derita dan kesedihan, dalam kegelisahan dan pilu. Terpenjara oleh jeruji para tirani. Karena ditinggalkan ahlul iman (orang-orang beriman), dan penghafal Al-Quran. Tidakah engkau lihat pipiku tercoreng lambang bintang segi enam. Keningku diinjak oleh negara Iblis. Di mana anak cucu Mush’ab bin Umair? Yang bisa menyelamatkan aku dari anak Golda Maer. Di mana orang-orang seperti Umar bin Abdul Aziz? Yang mampu membebaskan ku dari belengu Perez? Di mana para hamba-hamba agama ini? Yang bisa mengusir injakan kaki di keningku? Di mana murid-murid Abdullah bin Mas’ud? Yang dapat mengusir anak-anak ‘kera’? yang bisa mematahkan belenggu dari kakku? Akulah Al-Quds yang tertawan. Dahulu akulah cintanya Rasul saw. Dahulu aku ada dekat dalam dinding hati setiap Mukmin. Tapi sekarang aku tertimpa bala dan musibah. Aku mengalami keadaan yang sangat aneh.”
Telah berbilang tahun Palestina memanggil mereka. Namun sedikit dari mereka yang berkata: “Labbaik. Kami datang untuk membebaskanmu.” Kita, telah cukup lelah dengan mencintaiorang yang hanya berharap memuji dan mengaku-ngaku. Sementara Palestina tetap berteriak pagi dan sore.
Andai Umar bin Khattab mendengar teriakan seorang anak Palestina, yang kehilangan ayahnya dan saudaranya yang ditahan. Niscaya ia akan kerahkan bala tentaranya. Andai telinga Al Mu’tashim mendengar teriakan “Dimana umatku...” Niscaya baginya langit menjadi sempit dan bumi serasa berhimpit. Niscaya ia sendiri yang akan memimpin pasukannya.
Palestina bernasab Islam. Bukan hanya Arab. Itulah sebabnya Shalahuddin Al Ayyubi, pembebas Al-Quds, asal Qurdi. Sultan Abdul Hamid penolong Palestina, asal Turki. Sementara ada sebagian orang Arab di hari-hari perang Salib justru menjual Palestina di pasar-pasar.
Wahai Muslim Palestina. Anehkah jika kalian mampu mengalahkan Zionis, pesawat-pesawatnya, tank-tanknya, misil-misilnya? Kapankah kita pernah mengalahkan pasukan karena jimlah dan kekuatan senjata? Mereka selalu berjumlah lebih banyak dan lebih canggih persenjataannya. Demi Allah. Lihatlah Badar, lihatlah Al-Ahzab, lihatlah Yarmuk, lihatlah Al-Qadisiyah, lihatlah Hithin, lihatlah Ain Jalut. Dengan iman kita, keyakinan diri kita, kekuatan kita berpegang dengan agama. Kita telah kalahkan mereka. Maka, perangilah mereka dengan tongkat kalian, dengan batu kalian, dengan langit kalian, dengan bumi kalian, dengan para lelaki kalian, dengan kaum wanita kalian, dengan anak-anak kalian. Kita pasti akan mengang dengan izin Allah. Masa depan milik kalian. Esok yang bercahaya bersama kalian. Jika kalian bersabar dan bertaqwa.
Demi Allah, lihatlah, apakah bangsa-bangsa terjajah itu terbebas karena pertolongan bangsa lain? Bahkan bangsa-bangsa non Islam pun berperang sendiri melawan penjajahnya sampai merdeka. India tidak merdeka karena bantuan negara tetangganya atau dengan meminta-minta dengan berderai tangis ke organisasi dunia. Vietnam kalahkan Amerika dengan memberi pelajaran besar bagi AS yang terusir hina. Jepang juga demikian. Kamboja, tidak berbeda.
Lalu, lihatlah bangsa-bangsa Muslim. Apakah Aljazair merdeka dari Perancis karena bantuan negara Arab atau karena perjuangan bangsanya sendiri? Mereka memang telah persembahkan jutaan pejuang untuk merdeka. Lihatlah Afghanistan yang telah mengusir Rusia. Mereka jadikan bumi jajahan bak neraka jahim untuk penjajah. Mereka buat langit Afghanistan menjadi panas bagi penjajah. Terakhir, lihatlah Indonesia. Apakah bangsa Muslim terbesar itu merdeka dari jajahan Belanda karena bantuan negara lain, atau pahlawan-pahlawan sendiri?
Dikutip Dari: DR. Abdullah bin Aidh Al Qarni. 2008, Berteduhlah Ditaman Hati, Jakarta: Tarbawi Press
Sebuah tempat bersejarah dalam perjalanan hidupku. Di sini aku menemukan jawaban pertanyaan untuk diriku, tentang siapakah aku ?
Tampilkan postingan dengan label Palestina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Palestina. Tampilkan semua postingan
Selasa, Februari 03, 2009
Kamis, Januari 15, 2009
QUNUT NAZILAH
Menurut bahasa, Qunut berarti do’a, taat, tetap patuh beribadah atau merendahkan diri kepada Allah.
Qunut, dalam sholat adalah berdo’a di rakaat terakhir saat i’tidal, sesudah membaca sami’allahu li man hamidah, Robbana lakal-hamdu.
Qunut Nazilsh adalah do’a qunut yang diucapkan ketika terjadi musibah yang menimpa umat Islam, seperti kekeringan, ketakutan, kelaparan, wabah penyakit, diserang musuh, maupun lainnya. Do’a qunut bisa juga dilakukan untuk memohon keselamatan umat Islam.
Hukum Do’a Qunut
Do’a qunut hukumnya sunnah karena Rasulullah SAW tidak melakukan terus menerus, beliau melakukan pada saat kesusahan yang besar, yang disebut qunut nazilah. Ini berdasarkan hadis:
Ibnu Abbas telah berkata, Rasulullah pernah Qunut satu bulan berturut-turut pada shalat Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh, di rakaat yang akhir ketika i’tidal sehabis mengucapkan sami’allahu li man hamidah. Beliau mendo’akan untuk kebinasaan bani Sulaim, yaitu Ri’il, Dzakwan, dan Ushayyah, sedangkan makmum yang di belakangnya mengaminkan.
(HR. Abu Daud)
Kabilah-kabilah tersebut telah membunuh para utusan Rasulullah SAW yang bertugas mengajak mereka agar memeluk agama Islam.
Abu Hurairah r.a berkata, “Jika Rasulullah hendak berdo’a demi kebaikan seseorang atau demi kehancuran musuh-musuhnya, beliau berdo’a Qunut setelah rukuk, yaitu setelah mengucapkan sami’allahu li man hamidah, dan di antara do’anya adalah ‘Ya Allah, selamatkanlah fulan dan fulan’, atau ‘Ya Allah, turunkanlah laknat kepada fulan dan fulan’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bacaan Do’a Qunut
Bacaan do’a qunut bermacam-macam, disesuaikan dengan kesusahan atau kepentingan yang sedang dihadapi. Bacaan do’a qunut antara lain:
Allahummahdini fi man hadayt, wa’afini fi man ‘afayt, wa tawallani fi man tawallayt, wa barikli fi ma a’thoyt, wa qini syarra ma qodhoyt, fa innaka taqdhi wa la yuqdho ‘alayk, wa innahu la yadzillu man walayt, wa la ya’izzu man ‘adayt, tabarokta Robbana wa ta’alayt.
Artinya:
“Ya Allah, berilah aku petunjuk di dalam golongan orang-orang yang Engkau beri petunjuk, selamatkanlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau selamatkan, dan jadikanlah aku didalam golongan mereka yang telah Engkau beri kekuasaan. Dan berkatilah apa yang Engkau berikan padaku. Dan selamatkanlah aku dari kejahatan yang telah Engkau tentukan. Karena Engkaulah yang kuasa menetapkan dan Engkau bukan yang ditetapkan. Sesungguhnya, tidak akan hina orang yang Engkau lindungi dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Engkau Mahamulia, wahai Tuhan kami, dan Engkau Mahatinggi.”
(HR. Abu Daud, Thabrani dan Baihaqi)
Kesimpulan:
Do’a qunut disunnahkan dalam shalat, tetapi ulama Mazhab berbeda pendapat mengenai shalat yang disunnahkan membaca do’a qunut di dalamnya. Ulama Mazhab berbeda pendapat tentang hukum membaca do’a qunut dalam shalat subuh. Untuk mengambil jalan tengah dari perbedaan pendapat ulama Mazhab, kita dapat melihat kepada pendapat ulama pada masa-masa terakhir, seperti pendapat Sayyid Sabiq (pengarang buku Fikih Sunnah) dan Dr. Wahbah Zuhaili, mereka menyimpulkan bahwa qunut yang dilakukan Rasulullah SAW pada waktu subuh itu adalah qunut nazilah. Namun demikian, Sayyid Sabiq menyimpulkan bahwa masalah ini adalah permasalahan khilafiah yang mubah, hukumnya sama antara melakukan dan meninggalkan.
Kesimpulan ini sama dengan kesimpulan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah yang mengatakan, “Ulama sepakat bahwa orang yang berqunut pada shalat subuh, hukumnya sah dan orang yang tidak berqunut, shalatnya juga sah.”
Sama juga dengan pendapat Syaikh Yusuf Al-Qardhawi yang mengatakan, “Masalah seperti ini adalah masalah yang dibolehkan mengikuti yang satu atau yang lainnya. Jika seorang muslim meninggalkannya, ia tidak berdosa.
Jika kita melihat fenomena hari ini, yaitu tentang penggempuran Israel (Yahudi-Zionis laknatullah) terhadap Palestina, maka kita disunnahkan untuk membaca do’a Qunut Nazilah dalam sholat seperti yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah dalam melaknat Bani Sulaim.
Wallahualam
Qunut, dalam sholat adalah berdo’a di rakaat terakhir saat i’tidal, sesudah membaca sami’allahu li man hamidah, Robbana lakal-hamdu.
Qunut Nazilsh adalah do’a qunut yang diucapkan ketika terjadi musibah yang menimpa umat Islam, seperti kekeringan, ketakutan, kelaparan, wabah penyakit, diserang musuh, maupun lainnya. Do’a qunut bisa juga dilakukan untuk memohon keselamatan umat Islam.
Hukum Do’a Qunut
Do’a qunut hukumnya sunnah karena Rasulullah SAW tidak melakukan terus menerus, beliau melakukan pada saat kesusahan yang besar, yang disebut qunut nazilah. Ini berdasarkan hadis:
Ibnu Abbas telah berkata, Rasulullah pernah Qunut satu bulan berturut-turut pada shalat Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh, di rakaat yang akhir ketika i’tidal sehabis mengucapkan sami’allahu li man hamidah. Beliau mendo’akan untuk kebinasaan bani Sulaim, yaitu Ri’il, Dzakwan, dan Ushayyah, sedangkan makmum yang di belakangnya mengaminkan.
(HR. Abu Daud)
Kabilah-kabilah tersebut telah membunuh para utusan Rasulullah SAW yang bertugas mengajak mereka agar memeluk agama Islam.
Abu Hurairah r.a berkata, “Jika Rasulullah hendak berdo’a demi kebaikan seseorang atau demi kehancuran musuh-musuhnya, beliau berdo’a Qunut setelah rukuk, yaitu setelah mengucapkan sami’allahu li man hamidah, dan di antara do’anya adalah ‘Ya Allah, selamatkanlah fulan dan fulan’, atau ‘Ya Allah, turunkanlah laknat kepada fulan dan fulan’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bacaan Do’a Qunut
Bacaan do’a qunut bermacam-macam, disesuaikan dengan kesusahan atau kepentingan yang sedang dihadapi. Bacaan do’a qunut antara lain:
Allahummahdini fi man hadayt, wa’afini fi man ‘afayt, wa tawallani fi man tawallayt, wa barikli fi ma a’thoyt, wa qini syarra ma qodhoyt, fa innaka taqdhi wa la yuqdho ‘alayk, wa innahu la yadzillu man walayt, wa la ya’izzu man ‘adayt, tabarokta Robbana wa ta’alayt.
Artinya:
“Ya Allah, berilah aku petunjuk di dalam golongan orang-orang yang Engkau beri petunjuk, selamatkanlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau selamatkan, dan jadikanlah aku didalam golongan mereka yang telah Engkau beri kekuasaan. Dan berkatilah apa yang Engkau berikan padaku. Dan selamatkanlah aku dari kejahatan yang telah Engkau tentukan. Karena Engkaulah yang kuasa menetapkan dan Engkau bukan yang ditetapkan. Sesungguhnya, tidak akan hina orang yang Engkau lindungi dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Engkau Mahamulia, wahai Tuhan kami, dan Engkau Mahatinggi.”
(HR. Abu Daud, Thabrani dan Baihaqi)
Kesimpulan:
Do’a qunut disunnahkan dalam shalat, tetapi ulama Mazhab berbeda pendapat mengenai shalat yang disunnahkan membaca do’a qunut di dalamnya. Ulama Mazhab berbeda pendapat tentang hukum membaca do’a qunut dalam shalat subuh. Untuk mengambil jalan tengah dari perbedaan pendapat ulama Mazhab, kita dapat melihat kepada pendapat ulama pada masa-masa terakhir, seperti pendapat Sayyid Sabiq (pengarang buku Fikih Sunnah) dan Dr. Wahbah Zuhaili, mereka menyimpulkan bahwa qunut yang dilakukan Rasulullah SAW pada waktu subuh itu adalah qunut nazilah. Namun demikian, Sayyid Sabiq menyimpulkan bahwa masalah ini adalah permasalahan khilafiah yang mubah, hukumnya sama antara melakukan dan meninggalkan.
Kesimpulan ini sama dengan kesimpulan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah yang mengatakan, “Ulama sepakat bahwa orang yang berqunut pada shalat subuh, hukumnya sah dan orang yang tidak berqunut, shalatnya juga sah.”
Sama juga dengan pendapat Syaikh Yusuf Al-Qardhawi yang mengatakan, “Masalah seperti ini adalah masalah yang dibolehkan mengikuti yang satu atau yang lainnya. Jika seorang muslim meninggalkannya, ia tidak berdosa.
Jika kita melihat fenomena hari ini, yaitu tentang penggempuran Israel (Yahudi-Zionis laknatullah) terhadap Palestina, maka kita disunnahkan untuk membaca do’a Qunut Nazilah dalam sholat seperti yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah dalam melaknat Bani Sulaim.
Wallahualam
Rabu, Januari 14, 2009
Al-Quds (Disarankan Untuk Dibaca)
Bismillahirrahmanirrahim.
Al Quds, mesjid suci di tanah Palestina, tanah para nabi dan rasul. Al Quds, mesjid yang diberkahi, yang dulu, dari mihrabnya, Rasulullah SAW diangkat ke Sidratul Muntaha, dilangiit ke-7, untuk menerima perintah shalat, sebaik-baiknya kewajiban agama. Al Quds, kiblat pertama kaum muslimin ketika mereka melaksanakan shalat yang pertama kali didirikan dengan diimami oleh baginda Rasulullah SAW.
Al Quds, didekatnya Ruhullah, Isa al-Masih as dilahirkan dan didekatnya juga Ibundanya yang suci, Maryam al-Qiddisah as melayani Tuhannya sejak ia masih kecil. Al Quds, ialah titipan Tuhan kepada para nabi, kepada para rasul, kepada orang-orang shaleh, dan kepada siapapun yang memiliki hati nurani. Al Quds, lambang kehormatan kaum muslimin dan seluruh penganut agama samawi, bahkan lambang kehormatan bagi siapapun yang mengimani adanya kebenaran dan keadilan.
Al Quds, amanat yang dibebankan oleh Allah swt di setiap pundak kaum muslimin agar dijaga dan diabadikan. Al Quds, ia dan saudara-saudara kita di sekitarnya kini telah terancam keselamatannya, ditindas, didhalimi, dan dihina-binakan. Al Quds, lelaki-lelaki dan wanita-wanita di sana dibunuh, dibantai, diperkosa hak-hak mereka, rumah mereka dihancurkan, anak-anak mereka dibredel senjata api, atau rudal atau bahkan tank baja. Al Quds, di sana kita akan sering mendapati banyak perempuan yang apabila mereka masih beruntung bisa hidup, maka mereka harus rela hidup menjanda dengan kehilangan putra-putri mereka karena telah dilindas oleh tank baja.
Al Quds, ia memanggil setiap jiwa yang masih bersih untuk menyelamatkannya dari keruntuhan karena sedikit demi sedikit pondasinya telah dikikis. Al Quds, ia meminta bukti kesungguhan kita dalam beragama, besosial, dan berperikemanusiaan. Al Quds, dan setiap yang dizalimi disana memanggil setiap insan yang meyakini keberadaan Tuhan Yang Tunggal, Tuhannya Adam, Tuhan Ibrahim, Tuhan Musa, Tuhan Isa, dan Tuhan Muhammad bin Abdullah (kepadanya dan kepada keluarganya yang suci, dan kepada seluruh para nabi dan rasul shalawat berserta salam).
Al Quds, ialah al Aqsha yang termaktub di dalam al Quran bahwa Tuhan telah memberkahi sekelilingnya agar Dia memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya. Sesunguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Al Quds, ia menuntut bukti cinta kita kepada kebenaran dan keadilan, dan bukti kebencian kita kepada kejahatan dan kedhaliman. Sungguh, ia meminta bukti dari siapapun yang memiliki cinta dan kebencian itu dengan jiwa, harta, darah, tenaga, atau paling tidak dengan teriakan. Ya, teriakan "Allahu akbar!!", "Hanya Tuhan-lah Yang Maha besar!!", "Musuh-musuh Tuhan itu tidaklah besar!!", "Amerika kerdil!!", "Israel kerdil!!", "Mampuslah Amerika!!", "Mampuslah Israel!!", "Bebaskan al Quds!!", dan "Bebaskan Palestina!!".
Al Quds, seorang tua renta telah berkata tentangnya, "Hari ini kita telah membebaskan negara kita. Besok, kita harus bisa membebaskan al Quds." Al Quds, ia meminta kita untuk berjanji menyusul kafilah yang telah berangkat menujunya guna membebaskannya dan segera mendirikan shalat serta memanjatkan doa berjama'ah disana. Di setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun, ia selalu memanggil kita. Kita harus memenuhi panggilannya. Namun apabila setiap detik kita tidak mampu memenuhi panggilannya, maka semenit sekali. Kalau setiap menit terlalu sulit bagi kita, maka setiap jam. Kalau setiap jam kita tidak bisa, maka sehari sekali. Kalau sehari sekali kita masih tidak bisa memenuhi, maka seminggu sekali. Kalau seminggu sekali kita tidak sanggup, maka sebulan sekali. Kalau sebulan sekali pun masih terasa berat oleh kita, maka setidaknya dalam setahun kita memenuhi panggilannya itu sekali saja.
Al Quds, apapun yang terjadi dia harus tetap AL QUDS.
* * * * *
Al Quds, mesjid suci di tanah Palestina, tanah para nabi dan rasul. Al Quds, mesjid yang diberkahi, yang dulu, dari mihrabnya, Rasulullah SAW diangkat ke Sidratul Muntaha, dilangiit ke-7, untuk menerima perintah shalat, sebaik-baiknya kewajiban agama. Al Quds, kiblat pertama kaum muslimin ketika mereka melaksanakan shalat yang pertama kali didirikan dengan diimami oleh baginda Rasulullah SAW.
Al Quds, didekatnya Ruhullah, Isa al-Masih as dilahirkan dan didekatnya juga Ibundanya yang suci, Maryam al-Qiddisah as melayani Tuhannya sejak ia masih kecil. Al Quds, ialah titipan Tuhan kepada para nabi, kepada para rasul, kepada orang-orang shaleh, dan kepada siapapun yang memiliki hati nurani. Al Quds, lambang kehormatan kaum muslimin dan seluruh penganut agama samawi, bahkan lambang kehormatan bagi siapapun yang mengimani adanya kebenaran dan keadilan.
Al Quds, amanat yang dibebankan oleh Allah swt di setiap pundak kaum muslimin agar dijaga dan diabadikan. Al Quds, ia dan saudara-saudara kita di sekitarnya kini telah terancam keselamatannya, ditindas, didhalimi, dan dihina-binakan. Al Quds, lelaki-lelaki dan wanita-wanita di sana dibunuh, dibantai, diperkosa hak-hak mereka, rumah mereka dihancurkan, anak-anak mereka dibredel senjata api, atau rudal atau bahkan tank baja. Al Quds, di sana kita akan sering mendapati banyak perempuan yang apabila mereka masih beruntung bisa hidup, maka mereka harus rela hidup menjanda dengan kehilangan putra-putri mereka karena telah dilindas oleh tank baja.
Al Quds, ia memanggil setiap jiwa yang masih bersih untuk menyelamatkannya dari keruntuhan karena sedikit demi sedikit pondasinya telah dikikis. Al Quds, ia meminta bukti kesungguhan kita dalam beragama, besosial, dan berperikemanusiaan. Al Quds, dan setiap yang dizalimi disana memanggil setiap insan yang meyakini keberadaan Tuhan Yang Tunggal, Tuhannya Adam, Tuhan Ibrahim, Tuhan Musa, Tuhan Isa, dan Tuhan Muhammad bin Abdullah (kepadanya dan kepada keluarganya yang suci, dan kepada seluruh para nabi dan rasul shalawat berserta salam).
Al Quds, ialah al Aqsha yang termaktub di dalam al Quran bahwa Tuhan telah memberkahi sekelilingnya agar Dia memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya. Sesunguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Al Quds, ia menuntut bukti cinta kita kepada kebenaran dan keadilan, dan bukti kebencian kita kepada kejahatan dan kedhaliman. Sungguh, ia meminta bukti dari siapapun yang memiliki cinta dan kebencian itu dengan jiwa, harta, darah, tenaga, atau paling tidak dengan teriakan. Ya, teriakan "Allahu akbar!!", "Hanya Tuhan-lah Yang Maha besar!!", "Musuh-musuh Tuhan itu tidaklah besar!!", "Amerika kerdil!!", "Israel kerdil!!", "Mampuslah Amerika!!", "Mampuslah Israel!!", "Bebaskan al Quds!!", dan "Bebaskan Palestina!!".
Al Quds, seorang tua renta telah berkata tentangnya, "Hari ini kita telah membebaskan negara kita. Besok, kita harus bisa membebaskan al Quds." Al Quds, ia meminta kita untuk berjanji menyusul kafilah yang telah berangkat menujunya guna membebaskannya dan segera mendirikan shalat serta memanjatkan doa berjama'ah disana. Di setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun, ia selalu memanggil kita. Kita harus memenuhi panggilannya. Namun apabila setiap detik kita tidak mampu memenuhi panggilannya, maka semenit sekali. Kalau setiap menit terlalu sulit bagi kita, maka setiap jam. Kalau setiap jam kita tidak bisa, maka sehari sekali. Kalau sehari sekali kita masih tidak bisa memenuhi, maka seminggu sekali. Kalau seminggu sekali kita tidak sanggup, maka sebulan sekali. Kalau sebulan sekali pun masih terasa berat oleh kita, maka setidaknya dalam setahun kita memenuhi panggilannya itu sekali saja.
Al Quds, apapun yang terjadi dia harus tetap AL QUDS.
* * * * *
Langganan:
Postingan (Atom)