Sabtu, Maret 27, 2010

Agama Bangsa Arab Sebelum Nubuwah

Pendahuluan
Sebelum Nubuwah (Risalah Islam) ada beberapa agama yang dianut oleh bangsa Arab. Agama Paganisme (penyembah berhala), Majusi(penyembah api), Shabi’ah (agama kaum Ibrahim Chaldeans) dan Agama Samawi (Yahudi dan Nasrani).

Pembahasan

1. Agama Paganisme

Pada awalnya bangsa Arab mengikuti dakwah Isma’il AS yang menyeru kepada millah (agama) Ibrahim AS, yang menyembah dan mengesakan Allah serta memeluk agama-Nya. Namun seiring dengan berjalannya waktu kebanyakan masyarakat Arab melalaikan Millah Ibrahim, walaupun masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar agama yang masih mereka pakai—seperti pengagungan terhadap Ka’bah, thawaf disekelilingnya, haji, umrah, wuquf di Arafah dan Muzdalifah—hingga datangnya seorang lelaki yang bernama Amr bin Luhay [Sang Agen/Sang Perantara, meminjam istilah Salim A. Fillah—pen] pemimpin Bani Khuza’ah. Dia dikenal sebagai seorang yang bijak, rajin bersedekah dan sangat peduli dengan urusan agama, sehingga semua orang mencintainnya dan hampir-hampir kaumnya menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang disegani.

Pada suatu ketika Amr bin Luhay melakukan perjalanan ke Syam, sebuah negeri yang ketika itu menjadi model kemajuan. Dari Makkah ke Syam, ia seperti orang udik masuk peradaban—jika dibandingkan dengan saat ini mirip orang Indonesia ke Amerika Serikat. Di sana, dilihatnya penduduk Syam ini menyembah berhala. Tanpa perlu ikut ‘kuliah bertahun-tahun’—atau cuci otak—Amr bin Luhay ini langsung menyimpulkan ini adalah hal yang baik dan benar. Dengan logika yang simpel ia berargumen “Syam adalah tanah tempat diutusnya para Rasul dan negeri diturunkannya kitab suci”.

Sepulangnya dari melancong ke Syam, Amr bin Luhay membawa ‘oleh-oleh’ Hubal [sebuah hardware berhala yang disertai software kemusyrikan—istilah Salim A. Fillah, pen] dan meletaknya di dalam Ka’bah. Maka penduduk Makkah yang menganggapnya sebagai ulama, segera mengikuti penyekutuan terhadap Allah. Hampir seluruh orang-orang dataran Hijaz, Najd, Yamamah hingga Yaman mengikuti penduduk Makkah—karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk Tanah Suci—ini ditandai dengan munculnya berhala Manat yang ditempatkan di Musyallal di tepi Laut Merah di dekat Qudadi, Lataa di Tha’if dan Uzza di Wadi Nakhlah. Manat, Lataa dan Uzza ini merupakan tiga berhala yang paling besar. Setelah itu kemusyrikan semakin merebak dan bermunculan berhala-berhala yang lebih kecil di setiap tempat Hijaz.

Melangkah lebih jauh, Amr bin Luhay ini melakukan penggalian arkeologis terhadap berhala-berhala kaum Nuh yang terpendam disekitar Jiddah. Dia berhasil menemukan kembali Wadd, Suwa’, Yaghuts, Yu’uq dan Nasr, dengan bantuan jin. Potret orang-orang shalih yang dipertuhankan itu dibawa ke Tihamah, dan setelah musim haji ditempatkan kembali kedudukannya sebagai sesembahan. Sehingga setiap kabilah dan setiap rumah hampir pasti ada berhalanya. Mereka juga memenuhi Masjidil-Haram dengan berbagai macam berhala dan patung. Tatkala Rasulullah SAW menaklukan Makkah, disekitar Ka’bah ada 360 berhala, beliau menghancurkan berhala itu, mengeluarkannya dari masjid dan membakarnya.

Tak hanya itu, Amr bin Luhay juga menciptakan beberapa tradisi dan penyembahan terhadap berhala. Sementara orang-orang mengira apa yang dilakukannya itu sesuatu yang baru dan tidak mengubah agama Ibrahim. Ritual yang dilakukan terhadap berhala yaitu thawaf, bersujud dan memohon sesuatu kepada berhala, berhaji, berkurban dan bernadzar untuk berhala. Serta aneka ritual lainnya yang menjijikan bagi kita, tapi tidak bagi masyarakat Makkah ketika itu, yang dengan kagum memandang Amr bin Luhay.

Kemudian muncul pertanyaan, Apakah sebodoh itu bangsa Arab Jahiliyah, dengan mudahnya menerima dan mengikuti ritual baru yang diciptakan oleh Amr bin Luhay ? Adakah seperangkat logika yang meyakinkan bangsa Arab atas ritual paganisme ini ? Ternyata memang ada—‘logika perantara’—yang diproklamasikan oleh Amr bin Luhay, Sang Agen, pembawa ide logika perantara paganisme di Jazirah Arab.

“...kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya...” (Q.S Az-Zumar :3)

“Allah”, kata kunci logika itu, “Dzat yang Menciptakan kita, dia itu Maha Tinggi, Maha Mulia, dan Maha Suci. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang rendah, hina dan penuh noda. Sungguh tak pantas, makhluk yang rendah memohon langsung pada Yang maha Tinggi. Sungguh tak patut makhluk yang hina bersimpuh didekat-Nya Yang Maha Mulia. Dan sungguh tak layak bagi insan penuh noda mencoba meraih kasih-Nya Yang Maha Suci. Sungguh Dia Maha Agung di langit, takkan terjangkau bagi kita yang berkubangan di palung samudera kehinaan.” Sehingga logikanya manusia butuh ‘perantara’.

Kita ambil contoh terhadap Lataa, salah satu berhala terbesar, yang namanya ditafsirkan sebagai bentuk feminin dari kata Allah.. Lataa adalah seorang wanita yang kaya dan dermawan, setiap tahunnya selalu menjamu para tamu Allah yang datang berhaji ke Baittullah dengan jamuan roti nan lebar yang dicelupkan ke kuah daging yang kental dan minuman yang menyegarkan. Bahkan jamaah haji ini kalau kekurangan dana maka katakan pada Lataa, dia akan menyantuni para tamu Allah itu. Setelah wafatnya Lataa, ia dijadikan sesembahan.

Logikanya, dengan melihat kedekatan Lataa dengan Allah, dan ‘jasa’ Lataa dalam memberikan pelayanan dan jamuan terhadap tetamu Allah—dialah perantara yang tepat—tentu Lataa sudah diberi banyak kewenangan oleh Allah di surga untuk menentukan nasib manusia di dunia—istilah kerennya, pasti Lataa telah jadi asisten Allah yang mengurusi bidang tertentu. “Jadi kalau meminta hal yang remeh-remeh, nggak usah pada Allah. Malu-maluin! [Masak Allah ngurusin hal-hal remeh, masih banyak pekerjaan Allah yang lain yang lebih besar dari yang kita minta, makanya permohonan kita yang kecil-kecil itu ditundanya. Kan sudah ada Lataa asisten Allah di surga sana! Minta saja sama Lataa !!!]. Jadi buat apa repot-repot menyembah Allah kalau Lataa lebih ngertiin kita !!!

Na’udzubillah tsumma na’udzubillah. Luar biasa logika perantara ini. Begitu juga dengan Manat, ‘Uzza, Hubal dan ratusan berhala lain—dan bahkan para malaikat dilogikakan. Merunut sejarahnya, logika ini juga terpakai dalam penuhanan Isa sebagai juru selamat yang dianggap menebus dosa manusia di kayu salib. Atau ketika orang Yahudi begitu bersemangat mengatakan ‘Uzair anak Allah. Dan bahkan pada penuhanan orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Yu’uq dan Nasr. Logika perantara ini begitu mendarah syaraf di tubuh kemusyrikan.

Sedihnya, logika ini tak kunjung lenyap. Bahkan hingga kini. Banyak dukun, paranormal, hingga yang menyebut diri Ustadz dan Kyai menggunakan logika ini untuk meraih sesuatu di sisi manusia. Mereka mengambil peran ‘perantara’. Dan manusia pun berbondong-bondong memakainya untuk memintas jalan hajat hidup mereka.

2. Agama Majusi

Lebih banyak berkembang dikalangan orang-orang Arab yang berdekatan dengan orang-orang Persi. Juga berkembang dikalangan orang-orang Arab Iraq dan Bahrain serta wilayah pesisir Teluk Arab dan Ada juga di Yaman.

3. Agama Shabi’ah, menurut beberapa catatan dan kisah berkembang di Iraq dan tempat lainnya, yang dianggap sebagai agama kaum Ibrahim Chaldeans.

4. Agama Yahudi dan Nasrani.

Orang-orang Yahudi mempunyai dua latar belakang, sehingga mereka berada di wilayah Jazirah Arab. Pertama, eksodus pada masa penaklukan bangsa Babilonia dan Asyur di Palestina di tangan Bukhtanashar pada tahun 587 SM. Sebagian dari mereka meninggalkan Palestina dan pindah ke Hijas bagian utara. Kedua, pencaplokan bangsa Romawi terhadap Palestina pada tahun 70 Masehi. Bangsa Romawi menekan orang-orang Yahudi dan menghancurkan haikal-haikal mereka, sehingga kabilah-kabilah Yahudi pindah ke Hijas, lalu menetap di Yatsrib, Khaibar dan Taima. Hingga Islam datang kabilah Yahudi yang terkenal adalah Khaibar, Nadhir, Musthaliq, Quraizhah dan Qainuqa.

Sedangakan agama Nasrani masuk ke Jazirah Arab lewat pendudukan orang-orang Habasyah dan Romawi. Habasyah menakluk Yaman pada tahun 340 M, kemudian Dzu Nuwas dan Abrahah kemudian menjadi penguasa baru di Yaman. Mereka begitu bersemangat menyebarkan agama Masehi, sampai-sampai Abrahah membangun gereja di Yaman yang dinamakan Ka’bah Yaman. Dia menginginkan agar semua bangsa Arab berhaji ke gereja ini dan hendak menghancurkan Baitullah di Makkah. Namun Allah membinasakannya. Sedangkan Bangsa Arab memeluk agama Nasrani ini dari suku-suku Ghassan, kabilah-kabilah Taghlib, Thayyi dan yang berdekatan dengan orang-orang Romawi.

Penutup

Inilah agama-agama yang ada di Jazirah Arab pada saat kedatangan Islam, yaitu Paganisme, Majusi Shabi’ah, Yahudi dan Nasrani. Namun agama itu sudah banyak disusupi penyimpangan dan hal-hal yang merusak. Tradisi dan kebiasaan yang menggambarkan berbagai macam khurafat dalam kehidupan agama, kemudian mengimbas ke kehidupan sosial dan politik.

Tema kali ini lebih banyak membahas mengenai paganisme ala bangsa Arab Jahiliah yang membuat sekutu-sekutu Allah dengan rumusan ‘logika perantara’ dalam beribadah, dan jika dibandingkan betapa simpelnya theologi Islam, yaitu Allahu Ahad, Allah itu Esa, Tiada tuhan selain Allah, tak ada sesutu apapun yang pantas menjadi sekutu dan berhak untuk disembah selain kepada-Nya. Lalu pelajaran atau hikmah apa yang dapat kita petik dari tema ini ?

Wallahu’allam

*********

Sumber:
Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury. (2008). Sirah Nabawiyah.Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Salim A. Fillah. (2006). Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U Media.

Minggu, Juni 07, 2009

Hujan

Diluar hujan lebat, aku jadi ingat dengan kata-kata ustadz sewaktu wirid dimasjid “hujan itu adalah rahmat dari Allah”. Aku pikir ini memang benar hujan itu rahmat, malam ini suhu menjadi sejuk dengan hujan yang lebat, sangat kontras dengan suasana tadi siang yang cuaca panas menyengat. Ketika ikut seminar tadi bajuku sampai basah oleh keringat karena cuaca panas yang menyengat. Disamping itu rumput dan pepohonan yang menguning jadi segar kembali karena telah disirami oleh air hujan, begitu juga dengan debu-debu dijalanan menjadi hilang karena disiram air hujan.

Namun, hujan juga bisa mendatangkan bencana bagi makhluk ciptaan Allah, seperti banjir. Misalnya saja dikota Padang ini jika hujan turun selama lebih dari 1 hari bisa mendatangkan banjir. Ini dikarenakan selokan kurang berfungsi dengan baik. Seharusnya selokan ini berfungsi sebagai tempat pengaliran air namun realitanya selokan banyak yang berfungsi ganda sebagai tempat pembuangan sampah. Sehingga bila terjadi hujan lebat, selokan tidak bisa menampung curahan air hujan, dikarenakan sampah yang menumpuk didalam selokan. Hal ini membuat selokan jadi mampet dan air tidak dapat mengalir dengan lancar, sehingga air menjadi tergenang.

Genang air lama kelamaan akan bertambah jika hujan tidak reda, dan selokan tidak mampu lagi menampung air sehingga air diselokan meluap. Sifat air, air akan mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Luapan air dari selokan ini akan mencari tempat-tempat yang rendah sebagai tempat penampungan, seperti jalan, pemukiman penduduk, dll. Genangan inilah yang membuat banjir.

Kamis, Mei 07, 2009

Mentari Pagi

Matahari pagi malu-malu memancarkan sinarnya, cahayanya menyusup melalui jendela menerangi ruangan tempat tinggal ku. Masih terlihat jelas sisa-sisa hujan semalam disekitar tempat tinggal ku. Ini terlihat dari genangan air di depan, disudut selatan dan utara rumah ku. Serta tetesan air di dedaunan pohon jambu, mangga dan bunga-bunga yang tumbuh ditaman, merupakan bukti turunnya hujan semalam.

Saat ini aku tengah berdiri dibalkon menikmati hangatnya sinar mentari pagi. Tak terasa sudah 30 menit lamanya aku berdiri disini, sekarang sudah menunjukan pukul 7:02 am. Sinar mentari mampu menghangatkan tubuhku yang kedinginan sehabis mandi. Aku masih malas meninggalkan balkon, betah berlama-lama berdiri disini. Kalaulah tidak ingat dengan aktifitas yang harus dikerjakan mungkin aku tidak akan beranjak dari tempat aku berdiri.

*****

Sabtu, April 18, 2009

Nuansa Langit di Pagi Hari




Pagi-pagi, saat saya membaca buku dikamar, kak Siska teman satu kost datang kekamar. Beliau mengajak saya duduk dibalkon, melihat awan yang unik, berbentuk paha ayam goreng.

Kamis, April 16, 2009

Pengalaman Pulang Kampung

Seminggu lamanya aku berada di kampung, segudang pengalaman yang aku dapatkan. Rasanya ingin mempostkan tulisan ke blog, menceritakan dan berbagi pengalaman seru, tapi sayang di kampung ku belum ada jaringan internet. Online hanya bisa melalu GPRS. berselancar melalu GPRS tak terlalu mengasikan karena loading yang lamban.

Selasa, Maret 31, 2009

Andaikan Doraemon & Mesin Waktu Benar-Benar Nyata

Siapa yang tak kenal dengan Doraemon ? Hampir semua sahabat-sahabatku di Alamanda menjadi penggemar tokoh kartun Jepang yang satu ini. Doraemon, si robot kucing dengan kantong ajaib yang bisa mengeluarkan benda-benda aneh nan canggih tuk membantu Nobita, telah memberi inspirasi kepada ku untuk menulis ini. Diiringi oleh instrument Crystal-Toshikazu, ingatan ku melayang melintas ruang dan waktu, menuju ke masa lalu, mengenang masa-masa kecil ku, saat masih tinggal "dibawah lindungan" Ayah-Bunda ku…

Aku jadi ingat dengan Doraemon si robot kucing, salah satu tokoh kartun kegemaran ku. Andaikan Doraemon benar-benar nyata, akan aku pinta padanya untuk mengeluarkan mesin waktu. Aku akan kembali ke waktu 5 tahun yang lalu, dimana waktu itu ayahku masih hidup. Aku hanya ingin menyampaikan satu hal kepada beliau, “Ayah, aku mencintai mu…terima kasih ayah, engkau telah merawat dan membesarkan aku dengan sangat baik”. Satu kalimat yang tak pernah terucapkan dari bibir ku untuk ayah semasa hidupnya.

Ayah, engkau telah menjadikan aku begitu istimewa, di rumah mu aku begitu spesial. Aku heran, kenapa bisa seperti ini ? Aku pikir, tak ada yang spesial dari ku, hampir tak ada prestasi yang membanggakan yang aku persembahkan untuk mu ayah. Seingat ku prestasi terakhir yang aku persembahkan untuk mu, yaitu saat aku diterima kuliah di dua Universitas yang cukup bergengsi di pulau Sumatera. Bagi ku ini prestasi yang biasa-biasa saja, bukanlah prestasi yang hebat. Tapi aku melihat ada senyum bahagia dan bangga dibibir mu.

Karena aku lulus di dua Universitas, muncul masalah baru, bimbang menentukan kuliah di Universitas mana ? Aku harus memilih untuk kuliah di fakultas ekonomi atau fakultas ilmu-ilmu sosial ? Saat itu aku lebih memilih untuk kuliah di fakultas ekonomi sesuai dengan minat ku, menjadi wanita karir. Tapi engkau menginginkan aku untuk menjadi guru yang mendidik orang dari tak tau menjadi tau, aku urung mendaftar kuliah di fakultas ekonomi karena tak ingin mengecewakan mu ayah. Akhirnya aku mendaftar di fakultas ilmu-ilmu sosial yang konsentrasi terhadap pendidikan, mencetak tenaga guru. Tapi berat bagi ku untuk menjalani kuliah yang tak sesuai dengan minat ku. Dalam mindset ku, tanggungjawab guru sangatlah berat, beda dengan profesi lain, tak sebanding antara tanggungjawab dengan penghasilan yang didapatkan.

Astaghfirullah, saat itu pikiran ku terlalu picik. Hanya mengukur materi, yang merupakan kebahagiaan sesaat. Tak pernah terpikirkan oleh ku bahwa guru sangat kaya, guru terus memberi tanpa kekurangan. Sekarang aku menyesal baru tersadar. Aku juga telah mengecewakan mu ayah, maafkanlah aku…

Ayah, maafkanlah putri mu yang tak sempat bahagiakan mu…
Ya Robbi, aku mohon pada Mu, ampunilah segala dosanya. Ya Robbi, ku pinta pada Mu jadikanlah ia ahli syurga mu. Ya Robbi, izinkanlah kami tuk berkumpul kembali, bahagia selalu di syurga Mu…

Ayah, aku mencintai mu… Terima kasih untuk air mata, kesabaran dan cinta tulus yang telah engkau curahkan pada ku. Ayah, engkau pahlawan ku, yang tak pernah berbalas waktu… Ayah, walaupun jasad mu telah lapuk dimakan waktu, namun engkau terus hidup didalam sanubari dan ingatan ku. Kenangan bersama mu kan tetap menjadi kisah hidup ku.

Putri mu, yang selalu merindukan mu…

Kamis, Maret 26, 2009

Jadwal Rihlah Alamanda yang Di Tunda

Menurut perencanaan, hari ini Wisma Alamanda akan mengadakan Rihlah Gabungan, namun batal. Dengan berbagai macam pertimbangan Acara Rihlah Gabungan ditunda sampai 19 April 2009. Salah satu alasan ditundanya acara rihlah gabungan ini, karena persiapan panitia dan tempat yang belum clear.

Bagi Alumni Alamanda bisa ikutan Rihlah Gabungan yang diadakan pada 19 April 2009